Jumat, 01 Agustus 2014

Hari raya idul fitri 1435 H


Selamat hari raya idul fitri 1435 H, mohon maaf lahir batin :)
Ini udah hari kelima lebaran dan baru sekarang sempet menyapa kalian semuanya di sini. Apakabar semua? Baik-baik aja kan? Kalau nggak baik kayaknya agak aneh ya bisa main-main ke sini :D
So, aku mau cerita sedikit tentang lebaran aku kemarin. Sebenarnya nggak ada cerita yang spesial banget sih, karena aku nggak ikut mudik kayak yang kalian semua lakuin jadi terasa agak hambar, walaupun ya tetap terasa dong suasana lebarannya apalagi waktu malam lebaran aku dengar suara takbir sahut menyahut dari mesjid-mesjid di dekat rumah, aaaaaah damai banget dengar alunan takbir itu. Buat anak kecil, momen lebaran itu yang paling ditunggu adalah momen dapat banyak baju baru dan angpao. Wah aku inget banget dulu waktu masih kecil, aku selalu minta dibeliin banyak baju lebaran, trus aku sama temen-temen pada saingan siapa yang punya baju baru paling banyak, trus kita ke rumah masing-masing saling nunjukin baju baru yang udah kita beli, hahahaaa kalau ingat momen itu asliii ya pengen ketawa rasanya, konyoooool, but its so fun, guys :)

Dan sekarang udah umur 21 tahun nggak mungkin banget aku bisa ngerasain momen-momen manis itu lagi. Karena itu hanya bagian dari cerita masa kecil kita yang bahagiaaaaaa banget.
Trus aku juga inget, pas malam lebaran kita udah bawa lilin masing-masing untuk jadi penerang buat kita keliling-keliling komplek sambil takbiran dan cekikikan, kadang kalau udah nyampe di tempat yang agak gelap kita bakal lari cepet-cepet menuju tempat yang lebih terang. Dan tahu nggak lilin-lilin itu kita bawanya gimana? Lilin itu kita masukin ke dalam kaleng bekas, biasanya kaleng bekas yang kita pake itu kaleng yang bentuknya bulat misal kayak kaleng bekas mentega, terus ditengahnya kita bolongin untuk kita sangkutin kawat tipis buat jadi pegangan. Baru di dalam kaleng itu kita masukin lilin, jadi deh kayak lampu teplok (iya bukan sih itu namanya?) momen-momen yang amat dirindukan dan kini hanya tinggal kenangan. Yang tersisa sekarang cuman momen denger suara takbirannya aja. 

Hari pertama lebaran siap solat ied kita (aku, mamak, bapak, dan kak mena) pulang ke rumah nenek (ibunya mamak). Rumahnya deket banget sama rumah aku, jaraknya cuma sekitar 5 km gitu deh jadi nggak berasa banget mudiknya. Karena nggak ada momen lebaran pun kita juga pulang ke situ, bisa seminggu sekali atau sebulan sekali. Suasana di rumah nenek pastinya rame banget lah, semua keluarga besar ngumpul. Setiap lebaran perut aku selalu dipenuhi dengan lontong, pagi siang malam cuma makan lontong aja. Nggak di rumah sendiri nggak di rumah nenek menunya yang aku makan tetap lontong karena lontong pas momen lebaran rasanya lebih lebih dan lebih enak daripada hari biasa. Kenapa? Karena buatan sendirilah, homemade, jelas kan lebih enak daripada yang kita beli di jalan-jalan. Angpau? Bisa dibilang tahun ini angpau terbanyak yang aku dapat, cukup buat beli satu gadget, mungkin juga ini tahun terakhir aku dapat angpau karena tahun depan kemungkinan aku udah wisuda, dan biasanya angpau berakhir ketika kita lulus kuliah. Karena kalau udah kerja berarti kita nggak berhak lagi dapat angpau tetapi gantian buat memberi angpau. Kalau udah kerja namanya bukan angpau lagi dong ya tapi THR, nominalnya pasti lebih gede ya hahahaa :D


Rabu, 23 Juli 2014

Presiden dan Wakil Presiden periode 2014-2019

Selamat untuk Presiden dan wakil presiden terpilih periode 2014-2019 Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla. Akhirnya masa-masa kampanye saling adu otot, adu argumen, saling serang, perdebatan yang tak kunjung henti bahkan juga terjadi di media-media sosial akhirnya selesaaaaai. Semoga dengan terpilihnya presiden yang baru semuanya bisa kembali bersahabat, bersatu, dan tetap damai. Nggak ada lagi saling gontok-gontokan dan merasa paling benar, karena yang paling benar dan maha tahu hanyalah Allah SWT. Untuk Bapak SBY, terimakasih yang sebesar-besarnya atas pengabdian bapak untuk negara Indonesia tercinta ini selama kurang lebih dua kali periode. Terima kasih juga untuk bapak Boediono yang telah mendampingi pak SBY selama satu periode, melakukan banyak hal untuk rakyat tapi tidak pernah mau dipublikasi ke media karena niatnya membantu memang tulus demi bangsa dan negara. Terimakasih untuk dua pemimpin hebat yang sudah mengabdikan waktunya, tenaga, dan pikirannya demi memajukan dan memakmurkan bangsa dan negara ini. Terimakasih, terima kasih, terimakasih. Semoga presiden yang menggantikan bisa mengemban amanah dengan baik, dan dapat membawa Indonesia kepada kemakmuran dan kemajuan lebih dari sebelumnya. Semoga apa yang disampaikan dalam setiap kampanyenya bukan hanya janji-janji politik semata yang begitu mudah dilupakan saat jabatan sudah ditangan. Amin ya rabb :)

Selasa, 22 Juli 2014

Syukuri

Sabtu, 19 Juli 2014

Malam ini aku menyusuri lorong-lorong rumah sakit, terus berjalan menapaki ruang demi ruang hingga sampailah aku di ruang saraf. Di dinding kaca ruang itu tertulis "neurologi". Aku menjenguk adik ipar mama yang beberapa hari lalu terbaring di rumah sakit ini karena mulai kehilangan kesadaran dan mengalami gangguan psikis. Sebenarnya sejak dulu memang tubuhnya sangat lemah dan gampang drop tapi sejak pamanku meninggal beberapa tahun silam, kondisinya semakin memburuk setiap harinya. Mungkin juga karena jauh dalam dirinya dia tidak sanggup menghadapi kematian suaminya dan harus merawat keempat anaknya seorang diri, tanpa pekerjaan tetap. Kerja serabutan terpaksa dilakukan demi tetap bertahan hidup dan membesarkan anak-anaknya. Namun setiap hari dia melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya pada anak-anaknya. Sering marah-marah dan teriak-teriak hingga terdengar ke rumah-rumah tetangga. Hingga akhirnya beberapa pekan lalu kondisinya memburuk dan suaranya menghilang. Tak ada lagi suara yang keluar dari bibirnya, entah apa penyebabnya. Tidak tinggal diam, anak tertuanya pun pergi ke rumah bibi ibunya dan mengatakan perihal kondisi ibunya itu. Lalu mereka membawa dia ke panti rehabilitasi mental, tapi hanya rawat jalan, setiap hari dibawa ke sana dan sore harinya di bawa pulang. Sejak itu, anak-anak itu dirawat oleh nenekku. My super grandma, di rumahnya sekarang sudah ramai penghuni, ditambah anak-anak itu jadi sekitar sepuluhan orang dan sebagian besarnya anak-anak, cucu nenekku.
Mendengar kabar itu aku sangat sedih. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya harus  melihat ibu yang disayangi dengan kondisi seperti itu, apalagi sudah tidak ada lagi sosok ayah untuk menguatkan. Namun setelah dibawa rawat jalan, kondisi ibu mereka justru semakin drop dan harus dibawa ke rumah sakit, menjalani proses penyembuhan di sana. Malam ini aku ke rumah sakit ini untuk melihat kondisinya. Saat tiba di ruangan itu, pandanganku langsung melihat pemandangan yang menyayat hati. Ibu mereka sedang tertidur, dengan slang dipasang di sela hidungnya, ada juga slang infus ditangan kanannya, dan tangan kirinya diikat ke pinggir tempat tidur agar ia tidak meronta-ronta dan menyiksa dirinya sendiri. Perih hati ini terlebih melihat wajah-wajah sepupuku. Wajah mereka tetap berusaha tersenyum walaupun sebenarnya aku tahu jauh dalam hati mereka ingin menjerit, ingin menangis dan mengadu. Namun kepada siapa lagi mereka bisa mengadu? Ayah tak punya, ibu juga dalam kondisi sakit. Rasanya aku ingin menangis di situ tapi melihat wajah mereka tak mungkin jika aku harus menumpahkan airmata di depan mereka. Bahkan mereka jauh lebih kuat daripada aku.
Mereka masih sangat muda, lebih muda dariku. Yang tertua tahun ini baru tamat SMA dan yang paling kecil masih SD. Setiap hari mereka berempat bergantian menjaga ibu mereka. Untungnya sekarang lagi musim liburan, kasian jika sekolah mereka terbengkalai karena terus berjaga di rumah sakit. Kalau aku jadi mereka entah apa yang bisa aku lakukan. Selama ini aku memiliki kedua orangtua sebagai pelindungku. Aku yang selalu disesaki kasih sayang dan dimanja, tak pernah terbayangkan jika aku harus kehilangan itu semua. Mungkin aku egois tapi manusia memang selalu begitu kan :)
Aku hanya berharap semoga bunda segera sembuh dan bisa berkumpul dengan mereka kembali. Semoga tuhan terus memberikan mereka kekuatan dan kesabaran menghadapi cobaan ini, tidak menyerah dan terus bersama menghadapinya. Selama ini mungkin kita selalu hidup bahagia tanpa perlu mengkhawatirkan sesuatu, kadang kita sudah punya semua tapi masih merasa kurang, tidakkah harusnya kita bersyukur dan menerima segala nikmat yang Tuhan berikan? Nikmat sehat, nikmat hidup, nikmat rejeki, nikmat iman, nikmat bisa bernafas dengan gratis, nikmat bisa berkumpul dengan keluarga, dan nikmat-nikmat lain yang kita miliki namun lupa kita syukuri. Syukuri, syukuri, dan syukuri.

Minggu, 20 Juli 2014

Joylaaaa

Tadi sore, aku ikut ke acara buka puasa bersama keluarga besar Kejaksaan Negeri Jantho -kantor kak Mena- di hotel The Pade, Banda Aceh. Sama kayak acara-acara buka puasa lainnya, datang sekitaran jam 6 sore, duduk-duduk cantik sambil menunggu waktu berbuka tiba. Ada yang menunggu sambil mengobrol, mengutak-atik gadget ataupun memandangi sekeliling. Karena nggak ada yang aku kenal jadi setelah duduk aku memilih menyibukkan diri dengan gadget kesayanganku. Tapi aktivitas itu nggak bertahan lama karna di sebelahku ada makhluk mungil dengan rambut ikal-ikal kecil yang diikat ditengah kepalanya. Namanya Joyla. Kalau kata kak Mena, Joyla super duper lasak, ada aja yang dilakuin, nggak bisa diam. Tapi tingkahnya lucu-lucu. Gadis kecil itu membuat suasana bubar menjadi lebih berwarna. Ada aja yang dia lakuin, mulai dari ngaduk-ngaduk puding, jatuhin alas piring di atas meja, ngambil minuman diaduk-aduk, jalan ke sana kemari. Sekalinya mata kita nggak awas, dia udah ada di luar ruangan. Ibunya kewalahan :) 
Tapi buat aku Joyla menggemaskan. Rasanya lebih menyenangkan mengobrol dengan gadis kecil itu dibanding dengan orang-orang dewasa. Karena dia lebih polos, ceria, dan apa adanya. Jadi nggak perlu mikir udah melakukan sesuatu yang benar atau belum.
Iseng, aku mengajaknya mengobrol, menawarkan membuka piring makanan yang tertutup plastik, menyuapkan cupcakes untuknya. Dia ketawa hihiii, dan aku nggak lupa mengabadikan wajah lucunya..
Dia mengerjap dan tersenyum ketika aku memperlihatkan pantulan dirinya di foto. Bisa jadi dia sadar kalau itu dirinya atau bisa juga dia kira itu orang lain, entahlah, but its so fun to know you Joyla ����
Nah, ini dia gadis mungil yang aku ceritain, Joylaaaa...

Dan ini foto selfie saya untuk ngilangin boring setelah menyantap makanan berbuka...

Minggu, 06 Juli 2014

99 Cahaya di Langit Eropa oleh Hanum Salsabiela

Pertama kali aku ingin membaca buku itu karena tulisan "best seller" di cover depannya. Entah kenapa kalau udah ada tulisan "best seller" seperti ada jaminan bahwa buku itu pasti bagus untuk dibaca, yah walaupun  sebenarnya nggak semua begitu tapi paling tidak itu menjadi salah satu tolak ukur. Kemudian alasan kedua adalah karena buku itu juga sudah difilmkan ke layar lebar. Itu semakin menambah rasa keingintahuanku untuk membacanya dan tentunya juga didukung oleh sinopsis di belakang buku yang memang menarik. Buku ini diberi judul "99 cahaya di langit Eropa". Sesuai dengan judulnya, buku ini adalah buku yang menceritakan perjalanan spiritual penulis dalam menapaki jejak Islam di Eropa. Sebuah perjalanan mencari cahaya Islam di seluruh penjuru Eropa. Di dalam buku ini, aku mendapatkan banyak sekali informasi yang belum pernah aku ketahui sebelumnya tentang pasang-surut Islam, dan cerita itu mengalir dari bangunan-bangunan peninggalan dari masa ke masa yang menjadi saksi bisu kemajuan dan kemunduran Islam. Diceritakan bagaimana dulu pengaruh Islam di Eropa saat Islam mencapai puncak kejayaan hingga saat ini kemunduran Islam yang hanya menyisakan kenangan-kenangan pada bangunan-bangunan tersebut. Cerita ini adalah kisah perjalanan penulis yaitu Hanum Salsabiela Rais bersama suaminya, Rangga Almahendra. Hanum yang mengikuti suaminya yang sedang menempuh pendidikan Doktoral di Wina, Austria, mencoba mencari potongan demi potongan keterkaitan antara Eropa dan Islam pada masa lalu. Mungkin banyak yang tidak pernah menduga bahwa Eropa yang mayoritas beragam Katolik juga banyak warganya yang Atheis, akan tetapi dulunya pernah bersinggungan dengan Islam, berkaitan erat. Informasi-informasi itu diramu dengan apik oleh penulis sehingga menghasilkan tulisan yang sangat menarik, cerita sejarah yang biasanya membosankan dibuat dengan bahasa yang lebih menarik sehingga lebih mudah dipahami dan enak dibaca. Informasi apa saja yang saya dapatkan? 

Tahukah kalian bahwa roti croissant yang ada di Austria berbentuk bulan sabit? Roti itu dibuat berbentuk bulan sabit sebagai simbol kekalahan Turki terhadap Austria pada masa pemerintahan Turki Ottoman. Di Wina, agama mayoritas yang dianut masyarakat adalah Kristen Katolik, maka jangan heran jika kalian ke sana maka akan sangat susah menemukan mesjid, karena berbeda dengan di Indonesia yang sangat mudah menemukan mesjid, di Wina mesjid hanya ada satu-satu dengan letaknya yang berjauhan antara satu dan lainnya. Kebanyakan warga muslim di sana jika ingin shalat hanya di ruang-ruang atau langgar kecil. Saat tiba waktu shalat pun sangat susah menemukan suara muadzin yang mengumandangkan azan, sangat berbeda dengan di sini. Di situlah tantangan masyarakat muslim di sana. Mungkin bagi kita yang hidup di negara dengan jumlah populasi muslim terbesar melakukan ibadah bukanlah hal yang sulit tapi bagi muslim di sana yang menjadi minoritas sangat susah sekali bagi mereka melakukan ibadah seperti kita. Karena tidak semua orang bertoleransi pada agama kita. Misal, seperti Rangga yang pernah ditegur oleh atasannya karena beribadah salat di ruangannya. Karena mereka melarang membawa-bawa agama dalam lingkungan kampus, kampus harus netral dari isu-isu agama. Aneh bukan? Tapi itulah tantangan yang harus dihadapi oleh warga muslim sehari-harinya di sana. 

Di sini juga diceritakan tentang Cordoba di Spanyol, di sana ada sebuah bangunan yang dulunya mesjid tetapi kini telah diubah menjadi sebuah gereja, namanya Mezquita. Mesjid ini diubah menjadi gereja karena kekalahan kekhalifahan Islam di Granada, akhirnya pemerintahan diambil alih oleh Isabella dan Ferdinand. Dalam kurun waktu 10 tahun setelah Granada takluk, Isabella dan Ferdinand memerintahkan pembaptisan massal pada seluruh penduduk baik Islam maupun Yahudi. Sejak saat itu penggunaan bahasa arab dilarang keras, tradisi-tradisi yang berbau arab dihilangkan dan yang paling agresif adalah pembentukan kepolisian untuk mengawasi muslim dan Yahudi yang sudah "terpaksa" berpindah agama. Makanya tak heran jika kalian pergi di jalan-jalan terutama pasar-pasar Spanyol, para penjual daging babi gantung ada dimana-mana. Petugas kepolisian bertugas memastikan tidak ada warga Spanyol yang memeluk Islam atau Yahudi secara diam-diam. Mereka memaksa setiap warga untuk berjualan babi dan mendemonstrasikan memakan babi di depan mereka. 

Dan kalian tahu agama apa yang paling besar dipeluk di Eropa ini? Bukan katolik dan kristen, tetapi ateisme dan sekulerisme. Ketidakpercayaan mereka terhadap tuhan karena melihat banyaknya orang-orang yang berselisih karena agama, perang agama, dan semacamnya, hal itu membuat mereka semakin tidak percaya akan tuhan. Hmmmmmm ����

Tahukah kalian apa perbedaan Islam yang dulu mencapai masa kejayaan dengan Islam yang sekarang mengalami kemunduran? Bedanya adalah Islam dulu menggabungkan antara agama dan sains (pengetahuan). Bisa dilihat kan dahulu banyak sekali orang-orang Islam yang hebat dalam ilmu pengetahuan, sebut saja Ibnu sina, Ibnu Rushd, dan banyak lagi. Dulu, Islam disebarkan dengan cara yang sangat indah, dengan berperilaku mulia dan lewat ilmu pengetahuan.
Seribu tahun Islam bersinar, lalu pelan-pelan memudar. Kenapa?
Penulis mengatakan bahwa karena sebagian umat Islam sudah mulai melupakan apa yang telah diperdengarkan Jibril kepada Muhammad saw. pertama kali. Karena kita terlalu sibuk bercumbu dengan kata jihad yang salah dimaknai dengan pedang, bukan dengan perantara kalam (pengetahuan).

Coba lihat sekarang apa yang terjadi pada Islam? Islam selalu saja dikaitkan dengan kekerasan, teroris, poligami, dan banyak stigma-stigma negatif lainnya yang sengaja dibangun untuk memperburuk citra Islam. Coba kita lihat di Indonesia, perilaku orang-orang Islam saat ini bagaimana? Tidak menampilkan budi pekerti yang baik, seakan-akan memang seperti itulah Islam. Padahal Islam yang sebenarnya adalah mengajarkan hal-hal terpuji, mengajarkan berbuat baik, berlaku santun, berbudi pekerti. Itulah yang dilakukan masyarakat Islam Turki di Austria saat ini, mereka menyebarkan Islam dengan cara yang indah, dengan senyuman, dengan menebar kebaikan, maka tak heran jika sekarang jumlah muslim di Austria berangsur-angsur jumlahnya semakin banyak walaupun masih menjadi minoritas. Tetapi itulah sebenarnya yang harus kita lakukan "menjadi agen muslim yang baik". 

Mengajak itu tidak perlu dengan kekerasan, pemaksaan, tapi dilakukan dengan mencontohkan perilaku-perilaku yang baik dan positif. Tularkan nilai-nilai keislaman ke seluruh dunia agar mereka tahu betapa indahnya Islam. Dalam buku itu, Hanum menceritakan tentang temannnya, Fatma, seorang wanita Turki yang tinggal di Wina, dia selalu mengatakan bahwa dia ingin menjadi agen muslim yang baik. Bahkan suatu waktu saat mereka duduk di sebuah cafe, ada sekelompok turis yang mengobrol sambil mengejek-ejek Muslim Turki. Fatma mendengarnya tetap tenang walaupun dalam hati ia marah, kemudian yang dia lakukan setelah itu bukan melabrak dan menasehati para turis itu tetapi dia justru membayari semua makanan para turis itu dan menuliskan pesan pada mereka di secarik kertas dan menitipkannya pada pelayan, tulisannya begini, "Hi, I am Fatma, a muslim from Turkey". Lalu dia juga menulis alamat emailnya di situ. 

Dan beberapa waktu setelah kejadian itu, salah seorang dari mereka mengirim email ke alamat yang ditulis Fatma, emailnya begini,  "Hi Fatma, nice to know you. Thanks for the treat in Kahlenberg cafe. We're really looking forward to treat you back someday. Hope to see you soon. It took me quite sometime to send out this e-mail to you because I had no idea how to express my regret, Are you a muslim? Thank God, I think we could be penfriends and I'll tell the world that my best penfriend is a Muslim? Write me back. Paul.
PS: I do hate croissant anyway, because... I love kebab most!

You see? Kebaikan justru membuat mereka (non muslim) tersentuh, bukan diskusi agama yang tak kunjung selesai, bukan jihad yang salah kaprah, bukan ceramah, tapi akhlak yang baik. Karena akhlak tidak berbicara tapi maknanya jauh lebih besar daripada sekedar berbicara.

Ada juga perjalanan penulis di Istanbul, Turki. Jika di Spanyol ada Mezquita, mesjid yang diubah menjadi gereja, maka di Turki ada Hagia Sophia. Hagia Sophia adalah Katedral Byzantium terbesar di Eropa yang kemudian menjadi mesjid. Ini bukti jatuhnya Konstantinopel ke tangan Dinasti Ottoman.

Selama ini setiap ada yang menyebut kata Belanda pasti langsung kita kaitkan dengan kincir angin dan bunga tulip. Tapi tahukah kalian bahwa ternyata Tulip sudah lebih dahulu menjadi ikon pariwisata di Turki. Tulip itu adalah bunga asli Anatolia Turki dan sebagian Asia Tengah. Tulip menjadi semakin populer saat Ottoman melancarkan invasi ke negara-negara Eropa. Termasuk ketika kapal-kapal Ottoman berlabuh di Belanda. Tidak ada satu pun yang melirik tulip untuk dikembangkan kecuali Belanda. Di Belanda lah kemudian bunga-bunga itu dikembangkan menjadi lebih menarik dalam berbagai warna karena peran teknologi. Nah, itu aja sedikit gambaran yang bisa aku bagikan, yang pasti buku ini sangat menarik dan sangat bagus untuk dibaca.

Selasa, 01 Juli 2014

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Karangan Tere Liye


Kemarin sore aku mulai membaca buku karangan Tere Liye yang lain. Ini adalah buku ketiganya yang aku baca setelah "Hafalan shalat Delisa" dan "Sunset bersama Rosie". Judul bukunya ini yaitu "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin". Membaca judul ini awalnya membuat aku sangat tertarik dan juga penasaran akan seperti apa isinya. Apalagi aku juga sering membaca penggalan kalimat yang ada dalam novel ini yang ditulis beberapa orang di media sosialnya. 

Kalimatnya begini :
"Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta"

Ya, memang terkadang saat kita menyukai seseorang, kita selalu mencari pembenaran bahwa dia juga menyukai kita, mengumpulkan kejadian-kejadian dan memaksakannya menjadi seperti yang kita inginkan. Walaupun itu hanya ilusi tapi kita membuatnya menjadi begitu nyata hingga akhirnya kita harus menelan pil pahit bahwa ternyata itu benar-benar hanya sebuah ilusi, sebuah kebohongan yang menjerat diri sendiri. Ketika jatuh cinta, kita tidak lagi bisa membedakan mana simpul yang nyata dan yang dusta. Kadang simpul yang nyata terlihat seperti dusta dan terkadang pula simpul yang dusta terlihat seperti benar-benar nyata.

Dan ada satu lagi kalimat yang paling aku sukai :
"Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... Daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terengggutkan dari tangkai pohonnya"

Hal itu semakin membuat aku penasaran. Hanya dalam beberapa jam saja novel ini selesai aku baca, hebat bukan? Yap, namanya juga penasaran, nggak heran aku bisa membacanya secepat itu. Apalagi jalan cerita dan bahasanya enak dibaca, dan ketika membacanya, aku seperti ikut tersedot dalam buku ini, seperti sedang menyaksikan kejadian ini dengan mata kepalaku sendiri. 

Pertama aku tidak mengerti makna dari kalimat "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin" tapi setiap halaman demi halaman buku ini aku buka hingga sampailah pada halaman terakhirnya, aku baru mengerti makna dari kalimat itu. Mungkin juga maknanya menjadi berbeda dengan apa yang dipahami penulis ataupun pembaca yang lain, namun manusia memang begitu kan, selalu punya pandangan dan pendapat yang berbeda dengan manusia lainnya. Karena itulah yang membuat hidup ini menjadi lebih indah. Tidak monoton hanya hitam dan putih, tapi juga ada banyak warna lain seperti merah, kuning, hijau, biru, nila, ungu, dan jingga.

Cerita ini menceritakan tentang dua orang kakak beradik yang setiap harinya mengamen dari satu kendaraan umum ke kendaraan umum lainnya, bermain dengan pekatnya matahari dan debu jalanan setiap hari. Mereka tinggal bersama ibunya di sebuah rumah kardus di bantaran kali. Karena tak punya cukup uang untuk membayar sewa kontrakan, rumah kardus menjadi pilihan terbaik untuk mereka. Kedua kakak beradik itu pun terpaksa berhenti mengenyam pendidikan karena ketiadaan biaya. Jangankan untuk sekolah bahkan untuk makan sehari-haripun susah. Mereka mengamen ke sana kemari hingga larut malam tanpa mengenakan alas kaki. Bagaimana mungkin mereka bisa memakai alas kaki jika untuk makan pun mereka tak punya. Hingga suatu hari saat sedang mengamen di bus, tidak sengaja kaki sang kakak terinjak paku payung yang ada di dalam bus hingga mengalirlah darah segar dari kakinya yang tidak beralaskan itu. Di saat semua penumpang bus bersikap acuh dan tak peduli, muncullah tangan seorang pria berusia dua puluhan mengulurkan sebuah sapu tangan. Dan sejak hari itu pria itu benar-benar menjadi malaikat bagi keluarga mereka. Bagaimana tidak, pria itu sangat banyak membantu mereka dan menjadi bagian terpenting dalam hidup kakak beradik itu. Mulai dari membelikan sepatu untuk mereka supaya bisa berlari ke sana kemari dengan nyaman, membiayai mereka untuk kembali bersekolah, memberi uang setiap bulan pada ibu mereka untuk kebutuhan sehari-hari. Singkat kata, pria itu telah membantu mengatasi kesulitan hidup mereka. Mereka yang tadinya hanya bisa tinggal di rumah kardus tanpa listrik kini sudah bisa menyewa sebuah kontrakan sederhana, bisa bersekolah dan belajar dengan baik. Mereka juga anak-anak yang cerdas. Setiap hari pria itu selalu mengunjungi mereka. Hingga suatu hari musibah menghampiri mereka, ibu yang mereka sayangi ternyata mengidap kanker stadium IV dan meninggal beberapa hari kemudian. Dari anak-anak yang riang mereka kembali menjadi anak yang pemurung. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena pria itu selalu bisa membuat mereka kembali ceria dengan caranya sendiri. Menariknya adalah sang kakak yang bernama Tania ternyata diam-diam mulai menyukai malaikat penolong mereka, menyukai pria itu yang bernama Danar. Hingga semakin ia dewasa rasa cinta itu semakin mekar. Apalagi sejak Danar mengenalkan kekasihnya, Tania begitu dimakan cemburu. Sepeninggal ibunya, Tania mendapatkan beasiswa melanjutkan SMP di Singapura. Hingga bertahun-tahun setelahnya, ia juga mendapatkan beasiswa melanjutkan sampai ke jenjang kuliah di Singapura. Dan ia pun bekerja di sana. Dia anak yang amat berprestasi. Namun perasaan cintanya pada Danar sudah terlampau dalam, dia tidak pernah mau membuka hatinya untuk lawan jenis seumurnya. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 14 tahun antara dia dan Danar. Dia tidak peduli semuanya karena yang dia tahu bahwa dia mencintai Danar sepenuh hati.
Endingnya bagaimana? Jangan bayangkan jika buku ini akan berakhir happy ending seperti buku-buku novel kebanyakan. Mungkin ini juga yang membuat aku menyukai buku-buku karangan Tere Liye. Karena dia tidak pernah menjanjikan akhir cerita yang bahagia, akhir cerita yang diinginkan semua orang dimana pemeran utama pria dan wanita bersatu. Dia hanya menyuguhkan berdasarkan realita yang sering terjadi bahwa cinta tak selalu harus memiliki. Mungkin dari kalimatku itu kalian tahu bahwa mereka pada akhirnya tidak bersama walaupun setiap potongan teka-teki hidup Tania perlahan-lahan terjawab, ternyata Danar juga diam-diam menyukainya. Namun sampai akhir cerita ini penulis tidak mengatakan mengapa Danar kemudian memilih menikahi Ratna, wanita yang tidak dia cintai. 

Hanya saja penulis sempat menuliskan begini:
"Bagi pria, dan itu sama saja dengan kebanyakan wanita, menikah tidak selalu harus dengan seseorang yang kau cintai. Menikah adalah pilihan rasional. Berkeluarga untuk lelaki postmodern seperti dia tidak semata-mata urusan cinta-mencintai..."

Aku juga tak begitu mengerti apa maksudnya tapi mungkin kurang lebih adalah bahwa orang dewasa memiliki pemikiran yang jauh lebih luas daripada remaja. Orang dewasa tidak seimpulsif para remaja yang ketika dia menyukai seseorang maka harus buru-buru diungkapkan. Orang dewasa walau secinta apapun dia pada seseorang tetapi tetap berpikir rasional, tidak melulu mengedepankan perasaan. Bisa jadi dalam cerita ini, Danar memilih menikah dengan wanita lain karena tahu akan perbedaan usianya dan Tania yang terpaut jauh, mungkin juga ia takut jika ia mengutarakan perasaannya yang sebenarnya pada Tania akan membuat Tania serba salah atau menganggap harus membayar utang budi, atau bisa jadi karena ia melihat Tania tumbuh menjadi gadis yang cantik, pintar, dan dewasa sehingga dia tidak mau merusak kebahagiaan gadis itu dengan perasaannya. Mungkin ia ingin Tania bisa berpasangan dengan orang yang lebih baik darinya di kemudian hari. Atau mungkin ada ratusan bahkan ribuan alasan lain yang membuatnya bersikap demikian. Namun itulah orang dewasa dengan sejuta pemikirannya yang pelik dan sulit dimengerti. Namun lagi-lagi Tere Liye bisa membimbing dan mengajarkanku bahwa cinta tidak melulu harus memiliki. Dan untuk bahagia maka menikahlah dengan orang yang benar-benar mencintaimu, jangan menikah dengan orang yang tidak mencintai kita (para wanita) karena walau diluar kehidupan pernikahan tampak bahagia dan nyata namun sebenarnya hanya sebuah kamuflase yang mengelabui banyak orang. Karena pernikahan sekali seumur hidup, bukan masa pacaran singkat yang apabila sudah bosan maka dengan mudah bisa berkata putus dan meninggalkan. Maka pikirlah sedewasa dan sebijak mungkin sebelum memutuskan menikah karena pernikahan ideal bukan seperti pernikahan para selebriti kita yang baru setahun dua tahun menikah lalu bercerai. Menikah tak semudah itu, teman. Karena bukan hanya menyatukan dua hati, dua perbedaan, atau mungkin dua budaya, tapi juga menyatukan dua keluarga, menyatukan dua orang yang tadinya "aku, kamu" menjadi "kita atau kami". Pernikahan adalah berharap mendapat sakinah, mawaddah, dan warahmah. Aib suami menjadi aib istri jadi tidak seenaknya mengumbar aib suami sendiri pada orang lain. Kekurangan suami juga kekurangan istri. Jangan hanya mencintai kelebihannya tapi cintai juga kekurangannya. Pupuklah cinta itu agar mekar setiap hari, jangan hanya mekar setahun, lalu layu berpuluh tahun kemudian. Buku ini mengajarkan banyak hal bahwa ketika mencintai seseorang bersikaplah seperti daun, tidak peduli seberapa kencang angin meluruhkannya, ia merelakan dirinya luruh ke bumi, tak melawan, mengikhlaskannya, penerimaan yang indah.

Minggu, 29 Juni 2014

Sunset Bersama Rosie Karya Tere Liye


Alhamdulillah, dua hari ini aku telah selesai membaca novel "Sunset Bersama Rosie" karangan Tere Liye. Akhir-akhir ini aku jadi keranjingan membaca buku lagi. Setelah beberapa tahun belakangan agak malas karena lebih sering menonton film baik Barat maupun Korea, dan lain-lain. Sebenarnya keinginan untuk membaca buku lagi bisa dibilang karena dorongan seringnya membuka fanpage fb nya Tere Liye. Dalam fanpage itu, dia selalu menuliskan kalimat-kalimat penuh inspiratif, kalimat-kalimat  pemuas dahaga, penyejuk kehidupan yang sarat makna, dia selalu punya cara menceritakan kisah-kisah dengan cara dan sudut pandang yang berbeda sehingga memberi pemahaman dan pengertian yang juga berbeda tentang hidup, tentang perasaan, dan tentang cinta. Dalam novel "Sunset Bersama Rosie" itu Tere Liye mengajak para pembaca terhanyut dalam alur cerita yang menarik, bahasa yang mudah dimengerti, dan memainkan emosi para pembaca sehingga ketika kita membaca buku itu, kita juga seakan ikut terhanyut dalam tiap adegan dalam cerita tersebut. Buku itu menceritakan tentang makna sebuah kesempatan. Tentang seorang pria bernama Tegar, yang sudah memendam perasaan cintanya selama dua puluh tahun pada gadis pujaan hatinya. Suatu ketika saat ia ingin memberanikan diri mengungkapkan perasaannya itu, dia pun mengajak pujaan hatinya, Rosie, mendaki Gunung Rinjani, Lombok. Tidak hanya pergi berdua, untuk mengurangi ketegangan apabila perasaannya ditolak, lelaki itupun mengajak sahabatnya, Nathan, ikut pergi menemani. Namun malang benar nasib lelaki itu, ternyata sahabatnya, Nathan_yang baru mengenal pujaan hatinya dua bulan belakangan_ juga menyukai Rosie. Dan hebatnya, sahabatnya telah lebih dulu menyatakan cinta pada gadis pujaannya itu dan mendapat respon positif dari gadis itu, yang merupakan sahabatnya dari kecil, sejak 20 tahun silam. Menyaksikan hal itu, Tegar yang baru sampai di puncaknya kembali turun terburu-buru tanpa sepengetahuan mereka. Ia pun menghilang pergi dan menjauh dari kehidupan mereka. Rasanya sungguh tidak adil, cintanya yang ia pendam selama 20 tahun pada sahabatnya itu kalah dengan waktu 2 bulannya Nathan mengenal Rosie. Hanya karena ia yang terlalu lama membiarkan kesempatan itu tak kunjung datang.
Selama kurang lebih enam tahun ia hidup dalam kebencian pada mereka, malam-malam penuh gelisah yang harus terus dilaluinya, ia juga bekerja selama 18 jam sehari di perusahaan untuk pelampiasan agar melupakan semua kejadian buruk itu. Dan hanya waktu yang mampu mengatasi pengalaman pahit itu, hanya dengan berdamailah maka ia bisa melewatinya. Hingga suatu ketika mereka datang lagi, gadis pujaan hatinya dan suaminya yang tak lain adalah sahabatnya dulu. Mereka datang mengunjungi apartemennya, tidak hanya itu, tetapi mereka juga membawa dua buah cinta mereka yang ceria dan riang. Dua malaikat kecil itulah yang sedikit demi sedikit mencairkan luka hatinya itu, kebenciannya pada mereka perlahan memudar karena kehadiran dua malaikat itu yang riang dan ceria. Cerita ini berlatar belakang di kota Lombok, tepatnya di Gili Trawangan. Di sini juga diselipkan kejadian bom Bali yang merenggut nyawa sahabatnya, Nathan. Kematian sahabatnya itu membuatnya meninggalkan acara pertunangannya dan meninggalkan kehidupannya yang super sibuk di Jakarta. Dia mulai menetap di Gili Trawangan dan mengurus resor milik keluarga Rosie dan juga mengurus anak-anak mereka. Sedangkan Rosie yang terlalu terluka karena ditinggal pergi Nathan mengalami depresi berat. Selama kurang lebih dua tahun harus menjalani rehabilitasi mental dan tinggal di shelter di Bali. Praktis, Tegar yang mengambil peran sebagai paman, om, ayah, ibu untuk mereka hingga ikatannya dengan anak-anak itu begitu kuat. Membaca novel ini, aku seperti ikut merasakan juga perasaan anak-anak itu yang kehilangan ayah mereka karena bom sialan itu. Bom yang mengatasnamakan jihad. Sungguh, Islam tidak mengajarkan hal keji seperti itu. Apalagi membunuh orang yang tidak bersalah. Dan jujur aku sedih sekali ketika bom dan teroris itu selalu dikaitkan dengan islam. Dari sini harusnya mereka belajar bahwa tidak seharusnya mereka melakukan perbuatan keji_membunuh orang asing dengan bom_dengan alasan jihad, apakah pernah terpikir bagaimana perasaan keluarga mereka yang ditinggalkan? Pernah merasakan bagaimana dampaknya pada masyarakat Bali saat itu? Turis-turis asing kembali ke kampung halamannya dan enggan ke Bali, pemasukan devisa berkurang, pemasukan warga setempat dari tempat-tempat wisata yang biasanya ramai dikunjungi turis jadi berkurang. Bisakah dihitung berapa banyak kerugian yang mereka dapatkan hanya karena alasan "jihad islam" yang salah kaprah. Belum lagi yang paling parah, luka trauma dan gangguan psikis yang mereka terima pasca kejadian itu. 
Baiklah, aku tidak ingin mengurai lebih jauh biarlah hati nurani yang menjawabnya sendiri.
Pada akhirnya cerita-cerita itu mengungkap misteri yang selama ini tersimpan. Kesempatan yang ia yakini tidak pernah ada untuknya sebenarnya bukannya tidak pernah ada tetapi justru dia yang tidak pernah memberi kesempatan itu ada. Di sini kita akan belajar pemahaman dan pengertian yang berbeda tentang makna kesempatan dan kehidupan. Tere liye selalu mampu memberikan motivasi dalam kalimat-kalimat yang dirangkainya. Rangkaian kalimatnya pun menggunakan bahasa yang indah dan enak dibaca serta mudah dipahami. Masih banyak lagi buku-buku karangannya yang lain seperti "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin", "berjuta rasanya", "negeri para bedebah", "negeri diujung tanduk" dan banyak lainnya. Aku akan membaca semuanya, ditunggu ya cerita-ceritaku selanjutnya.

Beberapa kalimat yang aku suka dari novel ini, yaitu:

Selamat pagi.
Bagiku waktu selalu pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan dan helaan napas tertahan.