Tampilkan postingan dengan label Sinopsis Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinopsis Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

Resensi dan Kritik Film "Batas"

Minggu kemarin, aku mendapatkan tugas midterm Penulisan Kreatif untuk menonton film Batas dan membuat reportase, resensi, dan kritik tentang film tersebut. Untuk reportasenya sendiri tidak begitu rumit memang, karena dulu sempat magang jadi wartawan. Tapi untuk urusan menulis resensi dan kritik adalah persoalan baru buat aku. dari semua tulisan artikel, hanya opini dan feature yang pernah beberapa kali aku tulis. Sedangkan untuk resensi dan kritik belum pernah sekalipun. Tentunya juga bukan perkara mudah untuk aku pribadi menilai sebuah film. karena setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing. Dan karena bisa tidak bisa tugas harus tetap dibuat, maka inilah dia hasilnya, jreng jreng jreng jreng...

RESENSI FILM BATAS
Judul : Batas
Produser : Marcella Zalianty
Sutradara : Rudi Soedjarwo
Penulis : Slamet Rahardjo
Pemain            : Marcella Zalianty, Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C Noer, Ardina Rasti, Otiq Pakis, Norman Akyuwen, Marcell Domits, Alifyandra, Tetty Liz Indriati.

Antara Keinginan dan Kenyataan


Batas merupakan film yang menceritakan tentang seorang perempuan yang bernama Jaleswari, yang begitu ambisius dan totalitas dalam bekerja. Dia berani ditugaskan ke daerah pelosok Kalimantan yang terisolir dengan kondisi yang sedang hamil. Hal ini juga dilakukan untuk pelariannya melupakan kematian suami yang dicintainya, hingga ia berani mengambil segala resiko yang mungkin akan terjadi selama ia berada dalam daerah penugasan. Misinya yaitu untuk mencari tahu apa yang menjadi kendala sehingga program Corporate Social Responsibillity (CSR) di bidang pendidikan yang dilakukan oleh perusahaan tempatnya bekerja tidak berjalan dengan baik dan maksimal di Borneo, daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan. Semua guru yang telah dikirim ke daerah perbatasan tersebut oleh perusahaannya, kembali lagi ke Jakarta dan hal ini berpengaruh terhadap proyek yang sedang dia jalankan. Hanya Adeus yang bertahan menjadi guru di sana, itupun karena dia adalah pemuda asli daerah itu. Untuk itulah, Jaleswari ditugaskan ke daerah tersebut untuk terjun langsung melihat sendiri apa yang terjadi sehingga program CSR perusahaannya tidak berjalan lancar. Kehidupan di pedalaman Kalimantan yang terisolir sangat jauh berbeda dengan kehidupannya di  Jakarta yang serba modern. Selain itu, masyarakat di sana juga memiliki cara pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Masyarakat Borneo lebih mementingkan anak-anaknya untuk bekerja daripada memperoleh pendidikan. Dengan segala kekurangan yang mereka miliki, mereka dihadapkan oleh sebuah perasaan apakah harus tetap tinggal di daerah kelahiran ataukah melewati batas perbatasan Indonesia-Malaysia untuk merasakan surga yang ditawarkan negara tetangga, ideologi bangsa pun diuji. Apalagi dengan batas teritori yang hanya ditandai dengan plang kecil, tanpa adanya pengawasan atau  monitor dari pemerintah, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk keluar masuk perbatasan. Selama di sana, Jaleswari mengerti bahwa sistem pendidikan yang diinginkan perusahaannya tidak sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.  Dia juga mengalami konflik batin saat berhadapan pada masalah kemanusiaan yang terjadi di daerah itu ataukah hanya terfokus pada misi awalnya yang ditugaskan oleh perusahaan. Persoalannya adalah masyarakat di sana lebih memilih bekerja daripada harus mengenyam pendidikan. Apalagi di sana ada Otik, salah seorang warga Borneo yang menginginkan warga di desa itu tetap bodoh, agar ia bisa dengan leluasa menjual perempuan-perempuan di tempat itu ke negara tetangga. Namun kehadiran Jaleswari yang penuh semangat dan optimistis telah membakar semangat anak-anak di sana, khususnya Borneo, untuk belajar. Tidak hanya itu, ia juga menularkan semangatnya pada Adeus, juga pada Panglima Galiong Bengker (Kepala Suku Dayak) untuk membuat warganya berpendidikan. Film ini juga mengajarkan tentang ideologi, bahwa realitanya banyak masyarakat Indonesia yang hidup di daerah perbatasan,  kemudian tergiur untuk hidup merantau ke negara sebelah yang lebih menjanjikan. Persoalannya adalah seberapa kuatkah kita untuk bertahan antara keinginan dan kenyataan. Selain itu film ini juga menampilkan sebuah daerah di pedalaman Kalimantan yang masih begitu kuat dengan nilai-nilai tradisional dan adat-istiadat yang kental, jauh dari peradaban dan kemajuan, dengan keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya sarana pendidikan. Sebuah gambaran masyarakat dengan kondisi pendidikan yang sangat rendah. Para orangtua terkesan seperti membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa pendidikan, menganggap bahwa bekerja lebih penting daripada belajar, sebuah pemikiran yang sangat berbeda dari masyarakat kota. Tentunya mengubah cara pandang masyarakat yang seperti itu bukanlah hal yang mudah, butuh proses yang tidak sebentar dan tentunya dibutuhkan kesabaran dan pemahaman. Karena untuk bisa memahami orang lain maka harus dipahami dahulu cara berpikir orang tersebut. Padahal banyak anak di sana yang sebenarnya memiliki semangat untuk belajar dan bercita-cita tinggi, seperti Borneo misalnya, yang bercita-cita ingin menjadi presiden. Namun dengan kondisi daerah yang demikian, mereka tidak memiliki pilihan selain melakukan apa yang diharapkan orangtuanya. Terakhir adalah film Batas ini memiliki makna batas yang beragam. Batas berarti sejauh mana batas seorang Jaleswari dalam mengenal lingkungan yang baru ia tinggali dan beradaptasi dengan segala perbedaannya, kemudian juga ada Adeus yang harus berhadapan dengan batas kemampuan dirinya dalam menghadapi masalah yang datang dari Otik, antara ingin memperjuangkan keinginan anak-anak untuk belajar ataukah menyerah pada tekanan-tekanan yang diberikan Otik untuk menghentikan langkahnya tersebut. Batas berarti  masyarakat yang hidup di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Batas berarti hidup dalam keterbatasan pendidikan, sarana-prasarana maupun fasilitas. Batas berarti keterbatasan untuk memilih antara keinginan atau kenyataan.  Dan batas berarti betapa budaya dan adat istiadat menjadi batas dalam menjalani hidup. Secara keseluruhan, batas menggambarkan bagaimana sekelompok orang yang berusaha untuk keluar dari batas kenyamanan diri mereka ketika dihadapkan pada sebuah tantangan maupun permasalahan supaya bisa terselesaikan dengan segera. 


KRITIK

Batas Tak Berarti Terbatas
Jaleswari suatu ketika ditugaskan oleh pimpinan perusahannya untuk menyelidiki penyebab gagalnya kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan mereka di sebuah daerah terpencil di perbatasan Kalimantan.  Dengan durasi tayangan yang hampir mencapai dua jam, Batas mencoba menceritakan mengenai banyak hal. Sejak awal, film ini diceritakan dengan begitu kompleks, dengan berbagai kasus, mulai dari menceritakan sosok Jaleswari dengan semangat dan optimistisnya, kemudian juga ada cerita daerah perbatasan Kalimantan yaitu wilayah Entikong, yang begitu terisolir dengan kualitas pendidikan yang begitu memprihatinkan, kemudian juga pemikiran masyarakat di sana bahwasanya anak-anak lebih baik bekerja daripada belajar. Lalu ada Otik, seorang warga Borneo yang menginginkan warga-warga  di sana agar tetap bodoh dan apatis terhadap pendidikan, supaya memuluskan jalannya untuk bisa memperjualbelikan para wanita di wilayah itu ke negara tetangga.  Juga ada Adeus, satu-satunya guru di Desa itu yang merasa  tertekan dengan ancaman dari Otik yang melarangnya untuk mengajar anak-anak di desa tersebut. Ada masalah Kepala Adat Dayak dan mantan istrinya yang hubungannya sudah tidak rukun lagi sejak kematian anaknya, dan terakhir tentang misteri kejadian yang dialami Ubuh, wanita misterius yang ditemukan warga setempat di Hutan dengan luka traumatiknya yang luar biasa. Film ini menceritakan banyak sisi dan begitu kompleks. Dan untuk menceritakan rangkaian konflik tersebut dengan lancar tentunya bukanlah hal yang mudah. Beberapa kali “Batas” terlihat seperti kehilangan fokus dalam penceritaannya. Dari satu cerita beralih ke cerita yang lain, dan perlahan-lahan setiap misteri dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak penonton yang melihat film ini mulai terbuka dan terjawab. Walaupun saya merasa ada sedikit kebingungan dalam memaknai beberapa adegan dikarenakan ceritanya yang memuat beberapa sudut pandang, sehingga ada beberapa plot yang seakan tidak terselesaikan dengan baik. Walaupun begitu, sutradara film ini, Rudi Soedjarwo, mampu menghadirkan susunan cerita yang kuat dan menarik dengan menampilkan balutan gambar-gambar dengan panorama alam Entikong yang indah, adegan para tokoh yang begitu menjiwai setiap peran yang dimainkannya, mampu membuat penonton terhibur dan hanyut ke dalam alur cerita tersebut. Keunggulan dari film ini adalah walaupun cerita ini bukan berdasarkan kisah nyata, namun konflik yang dimunculkan dalam film ini merupakan fenomena atau realita yang kerap terjadi di wilayah perbatasan Kalimantan. Tentang nilai dan adat istiadatnya, sistem pendidikannnya, daerah yang terisolir dan jauh dari peradaban dan sentuhan kemajuan, serta tentang ideologi bangsa yang sering terkalahkan dengan realita bahwa masyarakat di wilayah perbatasan tersebut ingin hidup lebih baik dengan merantau ke negara tetangga yang lebih mampu menawarkan apa yang tidak mampu ditawarkan negaranya sendiri.

Kamis, 30 Mei 2013

Film "Tears of The Sun"

Seminggu yang lalu aku menonton film "Tears of The Sun". Film ini mengisahkan tentang peperangan yang terjadi di Norwegia. Penuh konflik dan pertumpahan darah, merinding juga nontonnya, seakan nyawa manusia tak ada harganya dan pembunuhan massal pun terjadi. Dalam film yang dibintangi oleh Bruce Willis ini juga diceritakan bagaimana seorang tentara militer yang berkarakter dingin kemudian berubah dengan menunjukkan sisi humanisnya. Bagaimana tidak, dia dan rekan-rekannya melihat sendiri bagaimana perjuangan kaum-kaum tertindas di sana. Nyawa-nyawa melayang, para wanita di perkosa kemudian dibunuh, betapa mudahnya manusia menghabisi nyawa manusia lainnya.
Peperangan ini berawal saat Samuel Akuza terpilih sebagai presiden Nigeria. Perlawanan mulai ditunjukkan oleh organisasi Mustafa Yakubu. Isu yang berkembang adalah dengan memanfaatkan perbedaan ras dan etnik di negara tersebut. Akibatnya pertumpahan pun terjadi dan etnik Yakubu dalam waktu singkat berhasil menduduki Nigeria dan membersihkan etnik-etnik yang dinilai bertentangan dengan mereka. Dalam hal ini etnik tersebut yaitu suku Ibo. Terpaksa sebagian mereka melarikan diri untuk mencari perlindungan.
Sementara itu, Amerika mencoba untuk menyelamatkan warga negaranya yang masih berada di negara konflik tersebut. Pihak militer Amerika pun bergerak dan mengutus agennya Eagle One untuk menjalankan misi yang ditugaskan yaitu menyelamatkan warga negaranya, yang misi utamanya adalah menyelamatkan Dr. Lena Fiore Kendricks. Selain itu misi sampingannya adalah menyelamatkan 2 orang suster dan satu pendeta. Saat pasukan Eagle One berhasil menemukan Dr. Lena beserta dua orang suster dan seorang pendeta, ternyata misi mereka tidak berjalan lancar karena Dr. Lena menginginkan agar warga Nigeria yang ada di pengungsian juga harus diselamatkan semua dan ikut dengan mereka. Pertama pasukan tersebut merasa keberatan, namun akhirnya menyetujui karena tidak punya pilihan lain. Namun tidak semua warga ikut, ada juga yang tetap tinggal, begitu pula dengan dua orang suster dan satu pendeta tersebut yang tetap ingin tinggal karena tidak tega meninggalkan sebagian para pengungsi yang masih sekarat dan membutuhkan pertolongan. Mereka berjalan selama beberapa hari dengan menempuh perjalanan yang tidak mudah dan hanya istirahat sebentar saja kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Akhirnya mereka pun sampai di lokasi yang telah ditentukan untuk pendaratan helikopter yang akan menjemput mereka, namun helikopter yang muncul hanya dua. Apalagi saat pasukan hanya menarik Dr. Lena untuk naik ke helikopter sedangkan warga yang lain dibiarkan tinggal di tempat itu.

Film ini mengandung nilai-nilai humanis yang sangat bagus untuk ditonton. Menonton film ini seakan memutar kembali memoriku beberapa tahun lalu saat Aceh masih konflik. Memang di tempatku tinggal terbilang aman dan aku pun tidak mengalami atau menyaksikan tragedi-tragedi pertumpahan darah. Namun aku sering sekali mendengar kontak senjata pada waktu itu. Dan jika suara itu mulai terdengar di malam hari, mama akan membangunkan aku yang waktu itu masih berumur sekitar 9 tahun dan berbisik padaku, “Adek, tiarap, tiarap yaa...”
Dan saat itu juga jantungku langsung berdegup kencang dan mulai dilingkupi ketakutan. Bayangkan seorang gadis kecil yang begitu ketakutan saat mendengar suara kontak senjata yang begitu jelas terdengar di telinganya. Itu hanya mendengar saja sudah membuat aku takut dan merinding. Apalagi jika aku melihat sendiri senjata itu melayang ke tubuh-tubuh manusia atau justru merasakan peluru itu menancap ditubuhku. Naudzubillah L
Jadi bisa kalian bayangkan dan pikirkan bagaimana rasanya hidup di dalam konflik, di antara suara-suara senjata dan bertanya-tanya apakah esok aku masih bisa bernafas, apakah esok aku masih bisa berkumpul bersama keluarga dan teman-temanku, apakah esok ayah dan ibu masih tetap ada untuk menjadi pelindungku ataukah harus mati diujung todongan senjata, apakah esok aku masih bisa melihat orangtuaku tersenyum, apakah esok.....????
Pertanyaan-pertanyaan itu berisi harapan. Harapan konflik itu akan reda dan berganti dengan “DAMAI”.

Mau tahu lebih lanjut cerita film “Tears of The Sun” ? Ayooo nonton filmnya J


Jumat, 24 Mei 2013

Film "Baghban"

Nonton film Baghban malah banjir airmata. Yup, filmnya sedih banget banget banget :(
Baghban adalah sebuah film yang bercerita tentang orangtua yang begitu mencintai anak-anak mereka. Pasangan Raj Malhotra dan istrinya Pooja mempunyai 4 orang anak kandung dan seorang anak angkat. Raj membanting tulang demi bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya agar bisa menjadi anak-anak yang sukses. Mereka adalah potret orangtua yang sempurna. Bahkan hingga mereka telah menikah selama 40 tahun, hubungan mereka berdua tetap harmonis dan saling mencintai. Istrinya, Pooja, selalu setia menunggu suaminya, Raj pulang kerja sambil menghidangkan teh, yang telah menjadi kebiasaannya hingga sudah 40 tahun perjalanan rumah tangga mereka. Suatu ketika, Raj pensiun dari pekerjaannya sebagai akuntan di sebuah bank. Saat masa pensiunnya itu, dia merasa ingin agar mereka bisa lebih dekat dengan anak-anak. Karena selama ini semua anak-anaknya tinggal di kota yang berbeda-beda sehingga mereka hanya berjumpa beberapa kali dalam setahun. Namun 4 anak kandung mereka dan juga para istrinya merasa enggan dan tidak ada yang mau menampung mereka berdua karena dianggap akan menjadi beban bagi keluarga mereka nantinya. Sehingga mereka mengajukan syarat bahwa mereka akan secara bergiliran menjaga kedua orangtua mereka namun mereka tidak bisa menampung kedua orangtua mereka secara sekaligus, yang artinya kedua orangtuanya akan tinggal terpisah dan akan tinggal dengan salah satu dari mereka.
Raj tidak bisa menerima hal itu karena dia sama sekali tidak mau berpisah dengan istrinya. Namun istrinya menerima keputusan anak-anaknya itu dan menganggap bahwa maksud anak-anaknya itu sebenarnya baik.
6 bulan masa perpisahan Raj dan Pooja merupakan saat terberat bagi mereka berdua. Belum lagi perlakuan anak-anak mereka pada mereka. Dalam kesedihan mereka, mereka hanya bisa bertukar kabar lewat surat dan sesekali menelepon. Karena saran dari teman barunya, Raj mencoba untuk menulis kisahnya dengan istrinya menjadi sebuah buku. Hingga akhirnya setelah 6 bulan, mereka kembali bersama. Saat itulah, tanpa sengaja mereka bertemu dengan anak angkatnya yang bernama Alok. Anak yang diangkatnya dulu kini sudah menjadi sukses dan kaya raya. Bahkan Alok menghadiahi orangtuanya itu sebuh mobil mewah dan mengajak mereka untuk tinggal bersama.

Selama nonton film ini, nggak berhenti-berhenti aku nangis. Karena memang ceritanya sedih banget. Bayangin yaa, anak-anak kandung yang sudah mereka besarkan dengan penuh kasih sayang malah tega memperlakukan mereka seperti itu. Menganggap mereka seperti beban. Sedangkan anak angkatnya justru yang begitu menghargai dan menyayangi mereka dengan tulus.
Film ini memberiku banyak pelajaran berharga. Ternyata dimanapun orangtua itu sama. Mereka selalu memberi yang terbaik buat anak-anaknya bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri. Tapi anak-anaknya belum tentu bisa melakukan hal yang sama.
Anak-anak hanya bisa menjadi alasan orangtuanya menangis. Aku hanya berharap nanti saat aku sudah berkeluarga, aku tidak memperlakukan orangtuaku dengan buruk. Aku selalu berharap bisa menjadi alasan orangtuaku tertawa, bangga, dan bahagia. Semoga aku dan KITA semua bisa menjadi anak-anak yang bisa memberi senyum di wajah orangtua KITA, terutama di hari tua mereka :)

Sabtu, 04 Mei 2013

King 2 Hearts

Sudah pernah nonton film "King 2 Hearts" ? Film ini bercerita tentang konflik yang terjadi antara Korea Utara dan Selatan. Jalan ceritanya seru, penuh konflik tapi juga memberikan gambaran pada kita bagaimana kejamnya konspirasi yang dilakukan oleh negara-negara Super Power untuk mengobok-obok negara mana saja sesuka hatinya. Bahkan mereka mampu membuat setiap negara saling berperang.
Di sini ceritanya seorang pangeran Korea Selatan akhirnya jatuh cinta sama putri seorang perdana menteri dari partai Komunis di Korea Utara. Gadis ini seorang pasukan militer khusus. Jadi pasukan khusus itu dilatih untuk membunuh keluarga kerajaan Korea Selatan apabila sewaktu-waktu terjadi perang. Tiba-tiba ada rumor jika mereka akan menikah, dan akhirnya si gadis yang sudah mulai jatuh cinta sama pangeran tersebut menerima perjodohan itu dan tinggal di istana. Namun banyak tentangan dari rakyat Korea Selatan. Di situ digambarkan bahwa negara Korea Selatan adalah negara kaya yang modern dan berteknologi canggih. Sedangkan Korea Utara adalah negara miskin. Kebanyakan wilayahnya hutan, beda banget dengan Korea Selatan yang wilayahnya modern dengan tempat-tempat hiburan yang menarik.
Di situ dijelaskan bahwa sebenarnya peperangan yang terjadi selama ini antara Korea Selatan dan Utara hanya sebuah kesalahpahaman. Bahkan saat mereka akan berdamai, ada seorang pengusaha kaya raya yang mengadu domba kedua negara ini. Dia tidak ingin melihat kedua negara ini berdamai. Segala cara dilakukan untuk merusak perdamaian yang telah dibina oleh kedua negara itu. Bahkan Raja Korea Selatan, yang tidak lain adalah abang kandung dari pangeran, dibunuh menggunakan serbuk karbondioksida yang dimasukkan ke dalam perapian saat Raja dan istrinya sedang berlibur.
Banyak konflik yang terjadi setelah itu. Bagaimana kemudian di situ di ceritakan ada pihak-pihak di salah satu negara adikuasa mengebom sendiri kota di negaranya dan kemudian mengumumkan pada dunia bahwa peristiwa pengeboman  itu dilakukan oleh teroris yang berasal dari Korea Utara. Hal ini menjadi alasan bagi negara Super Power itu untuk menyerang Korea Utara. Padahal kenyataannya, Korea Utara sama sekali tidak melakukan pengeboman. Berbagai konflik itu membuka mata saya bahwa apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya karena dunia hanya panggung sandiwara bagi para aktor-aktor politik yang mampu memutarbalikkan fakta. Tidak ada kebenaran yang sebenarnya. Yang ada hanya kekuatan dari sebuah kekuasaan. Bagaimana yang Kaya bisa melakukan apapun yang diinginkan, dan yang Lemah hanya bisa pasrah dan menerima semua tuduhan, tanpa ada pembenaran.
Jadi buat kalian yang belum nonton, buruan nonton filmnya karena sangat bagus dan memberikan kita banyak ilmu baru lagi dan sekaligus membuka mata kita bahwa dunia tak seindah seperti yang terlihat. Ada banyak skenario yang dilakukan, ada banyak kebusukan-kebusukan yang tak tercium. Dan bagaimana dampak media dalam menyebarkan informasi hingga membentuk opini publik. So, buat kamu semua harus lebih cerdas dalam menerima dan melihat segala sesuatu. Apa yang tampak di depan mata belum tentu itu yang sebenarnya :)

Selasa, 30 April 2013

Test Pack (You're My Baby)

Malam semua...
Udah pernah nonton film "Test Pack (You're My Baby)" ? Pemeran utamanya Reza Rahadian sama Acha Septriasa. Entah kenapa ya, aku suka banget sama aktingnya Reza Rahadian. Feel nya dapet banget !! :D
Nah, film ini bercerita tentang kehidupan pasangan suami istri yang sudah 7 tahun menikah tapi masih belum mempunyai keturunan. Segala macam cara mereka lakukan untuk bisa mendapatkan momongan. Namun hasilnya tetap nihil. Tata yang diperankan oleh Acha, merasa sangat stress karena hal itu. Dia mengira bahwa selama ini mereka tidak mempunyai anak karena dirinya mandul. Namun, suaminya tetap setia mendampinginya, mengasihi, dan memberikan perhatian padanya. Bagi suaminya, anak bukan satu-satunya hal yang terpenting dalam sebuah pernikahan. Karena mereka menikah bukan semata-mata untuk mempunyai anak, tapi untuk menyatukan cinta mereka dalam sebuah ikatan yang suci. Namun tidak demikian dengan Tata. Dia merasa kurang sempurna karena tidak bisa memberikan anak pada Rahmat, yang diperankan oleh Reza Rahadian, suaminya. Bahkan ia menolak tawaran untuk bekerja di luar negeri demi bisa memiliki anak.

Di tempat yang berbeda, mantan pacarnya Rahmat, yaitu Sinta, seorang supermodel yang sedang menapaki puncak karirnya, terpaksa bercerai dengan suaminya, karena ia divonis oleh dokter tidak dapat memiliki keturunan. Karena paksaan orangtua, suami Sinta dengan terpaksa harus menceraikannya.

Karena sudah mulai putus asa, akhirnya Tata mengajak suaminya untuk memeriksakan kesuburan mereka di dokter. Tanpa terduga, di situ Rahmat bertemu dengan Sinta, mantan pacar yang dulu meninggalkannya demi lelaki lain. Namun hal itu coba disembunyikan Rahmat dari Tata, karena emosi Tata yang sedang tidak stabil akibat melakukan proses invitro (pemicu kesuburan).

Tata rela setiap hari tubuhnya harus disuntik hormon untuk menjalankan proses invitro. Dia begitu ingin memiliki anak. Namun sayangnya, ia tetap tidak hamil. Dokter menyarankan Rahmat untuk ikut memeriksakan keadaan tubuhnya. Tak di sangka-sangka ternyata hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa dirinya mandul. Dia sangat terpukul menghadapi kenyataan itu. Dia tidak sanggup menghancurkan keinginan istrinya. Akhirnya ia terpaksa menutupi kenyataan tersebut dan menyimpan hasil pemeriksaan tersebut di dalam lemari pakaian. Namun tanpa di sengaja, saat Tata sedang memasukkan pakaian ke dalam lemari, ia menemukan hasil tersebut. Melihat hasil itu begitu membuatnya shock dan hancur. Selama ini dia selalu merasa bahwa dirinya lah yang mandul. Dia berusaha keras melakukan berbagai cara untuk bisa mempunyai anak. Namun dengan teganya suaminya justru menyembunyikan hal ini darinya. Dia sangat kecewa hingga menyebabkan pertengkaran hebat di antara Tata dan suaminya. Rahmat semakin terpuruk, dia tidak tahu harus berbuat apa. Melihat kondisi Rahmat yang terpuruk dan hancur, Sinta mencoba menghiburnya. Mereka jadi sering bertemu. Lama kelamaan kedekatan mereka diketahui oleh Tata. Tata begitu marah dan semakin kecewa, padahal tadinya ia sudah mulai bisa menerima kenyataan. Namun melihat suaminya berselingkuh dengan mantan pacarnya, membuat ia marah dan meminta bercerai.

Rahmat semakin terpuruk dan tak tahu harus bagaimana. Ia pun mulai menerima kehadiran Sinta. Namun dia tetap tidak bisa melupakan istrinya. Sampai akhirnya, saat istrinya akan pindah ke luar negeri, dia mengejarnya. Dan akhirnya mereka kembali bersama.
Film ini mengajarkan bahwa hidup tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Bahwa hidup tidak selalu happy ending seperti dalam cerita-cerita romantis. Tapi bagaimana kita sebagai manusia menciptakan keromantisan dan kebahagiaan itu sendiri. Dan itu hanya akan kita dapatkan jika kita mampu menerima seseorang apa adanya, dengan segala kekurangannya. Mungkin sangat mudah menerima kelebihan orang yang dicintai, namun tidak semua orang bisa menerima kekurangan orang yang dicintai. Namun jika kita mampu menerima segala kekurangan orang yang kita cintai, maka tidak akan ada masalah dalam hubungan yang kita jalani. Karena sebuah hubungan adalah bagaimana menyatukan dua orang yang berbeda menjadi satu :)

Sabtu, 27 April 2013

Radio Galau FM

Ini adalah postingan pertama aku untuk label "Sinopsis Film". Nah, kenapa kali ini aku mau sharing soal sinopsis film, nggak lain dan nggak bukan karena hobi. Yup, aku hobi nonton. Mulai dari film Indonesia, Barat, Hollywood, Korea, Jepang, Taiwan, Thailand. Wuidiiih banyak yaaa. hahhaaa :D
Film apa aja aku suka yang penting keren :)
Nah, untuk postingan pertama, aku mau bagiin sinopsis film "Radio Galau FM". Udah pernah nonton belum?
Yaudah deh, langsung aja ya aku mulai ceritanya.
Jadi film "Radio Galau FM" ini bercerita tentang seorang cowok SMA kelas 2, bernama Bara Mahesa. Dia orangnya good looking, tapi lucunya udah 3 tahun dia terus saja menjomblo. Ada beberapa cewek yang dia dekatin, tapi rata-rata malah keduluan sama cowok-cowok yang lain. Bara hobi banget nulis. Cerpennya sering dipajang di mading sekolah. Sampai suatu hari, ada seorang adik kelasnya yang bernama Velin, yang diam-diam menyukainya. Velin sering membaca cerpen-cerpen Bara yang dipajang di mading. Satu hari sepulang sekolah, teman Velin menghampiri Bara, dan mengatakan padanya kalau Velin ingin berkenalan. Pertama kali bertemu, mereka berdua pada canggung dan diam-diaman gitu. Malamnya, Velin invite pin nya Bara, dan mulai dari situ mereka jadi sering BBM-an, pagi siang malam, telponan berjam-jam, pulang-pergi ke sekolah bareng. Sampai akhirnya mereka jadian. Bulan pertama jadian mereka masih mereguk manisnya percintaan, namun memasuki bulan kedua, Velin mulai sering ngambek, pengen diperhatiin, dan pengen Bara selalu ngeluangin waktu untuknya. Hal ini membuat Bara capek dan mulai jenuh dengan hubungannya dan Velin. Bara akhirnya mulai menjauhi Velin, dan meminta putus. Tapi Velin malah nangis dan meminta maaf. Dia berjanji untuk berubah. Namun Bara sudah terlanjur capek dan mulai menghindari Velin. Saat-saat itu, tiba-tiba Bara mengenal sosok Diandra, kakak letingnya di sekolah, yang juga sedang bermasalah dengan pacarnya. Kesamaan nasib di antara mereka yang akhirnya membuat mereka dekat. Velin yang mengetahui hubungan mereka dari twitternya Bara, kemudian menemui Diandra dan memintanya untuk menjauhi Bara, tapi Diandra tidak menggubrisnya. Setelah beberapa lama Bara dan Diandra jadian, Bara melihat perubahan sikap Diandra yang ternyata lebih parah dan menjengkelkan daripada Velin. Di situ Bara mulai teringat kembali pada Velin. Sampai akhirnya Bara sudah tidak tahan dengan tingkah Diandra dan meminta putus. Saat itu Bara mulai menyadari bahwa dia masih menyayangi Velin. Dia mengajak Velin makan malam di tempat dulu mereka sering makan. Di situ Bara mengajak Velin balikan, namun Velin menolaknya karena ternyata Velin sudah mempunyai pacar baru. Akhirnya Bara mulai mencoba move on dan kembali menyelesaikan tulisan novelnya hingga berhasil diterbitkan.

Menonton film ini mengajarkan aku beberapa hal, bahwa manusia nggak ada yang sempurna. Kadang kita selalu mencari seseorang yang sempurna, dan sering menilai bahwa orang lain buruk. Tapi kita lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Ketika memiliki pasangan, terima dia apa adanya. Jangan meminta dia untuk mengerti kita sedangkan kita tidak pernah mencoba untuk memahaminya. Kita selalu berusaha mencari yang terbaik. Seperti Bara yang tidak puas dengan sikap Velin kemudian beralih pada Diandra. Namun akhirnya dia menyadari bahwa Velin ternyata yang lebih baik. Kita sering terlalu pemilih, kita terus mencari orang yang tepat tanpa pernah kita sadari bahwa sebenarnya kita sudah bertemu dengan orang yang tepat itu. So, open your eyes and keep your love, guys :)