Senin, 09 Desember 2013
Hari Anti Korupsi
Hari ini (katanya) hari anti korupsi sedunia. hmmm, korupsi adalah topik yang paling sering kita dengar di Indonesia saat ini. Setiap menonton tayangan news, selalu ada saja kasus-kasus korupsi baru. Seakan korupsi itu menjadi sesuatu yang dihalalkan atau sesuatu yang sedang menjadi trend sehingga tidak heran semua pejabat melakukannya secara berjamaah. Sulit memang dengan sistem hukum di negara kita yang begitu lemah saat ini untuk menegakkan kasus-kasus itu dengan seadil-adilnya. Karena selama ini faktanya kasus-kasus korupsi yang terungkap kebanyakan hanya ikan-ikan kecil saja, walaupun ada beberapa ikan besarnya. Tapi banyak sekali "ikan-ikan besar" lainnya yang tidak tersentuh hukum. Ya, memang dimanapun tempatnya, yang kaya selalu aman. Untuk mengatasi korupsi memang sulit sekali, tapi mulailah dari diri kita sendiri, terutama para generasi muda. Jika merubah generasi tua begitu sulit maka mulailah untuk merubah yang muda, dengan melakukan "character building". Ayo tanamkan dalam diri kita rasa malu mengambil milik orang lain. Mulai dari sekarang, tumbuhkan rasa malu untuk tidak mengambil "apapun" milik orang lain tanpa seizin orang tersebut. Budayakan rasa malu, tanamkan nilai dan moral yang baik pada generasi muda. Sebenarnya penyebab orang-orang korupsi ada beberapa hal. Pertama, rendahnya moral sehingga tidak ada rasa malu ketika mengambil sesuatu yang bukan hak dan miliknya. Kedua, karena dorongan ekonomi untuk dapat hidup yang lebih baik. Ketiga, dorongan istri dan anak (bagi yang sudah menikah), dorongan-dorongan itu yang menjadi motif awal seseorang melakukan korupsi, karena tuntutan-tuntutan istri dan anak yang berlebihan, minta beli ini dan itu, yang akhirnya membuat seseorang itu melakukan korupsi untuk membahagiakan keluarganya. Banyak juga hal lain sebenarnya. Kita jangan selalu menyalahkan pemerintah ataupun hukum yang begitu lemah, tapi kita sebagai masyarakat juga harus ikut andil dalam membantu pemerintah. Kalau seandainya semua orang berperilaku baik, bermoral, dan tahu malu, maka tidak akan ada para koruptor di muka bumi ini. Selamat hari anti korupsi, semoga semua koruptor di negeri ini mendapat hidayah dan segera bertaubat. Semangat untuk para aparatur yang menjalankan tugasnya menangkap para koruptor supaya lebih jujur dan amanah :)
Minggu, 01 Desember 2013
Resensi dan Kritik Film "Batas"
Minggu kemarin, aku mendapatkan tugas midterm Penulisan Kreatif untuk menonton film Batas dan membuat reportase, resensi, dan kritik tentang film tersebut. Untuk reportasenya sendiri tidak begitu rumit memang, karena dulu sempat magang jadi wartawan. Tapi untuk urusan menulis resensi dan kritik adalah persoalan baru buat aku. dari semua tulisan artikel, hanya opini dan feature yang pernah beberapa kali aku tulis. Sedangkan untuk resensi dan kritik belum pernah sekalipun. Tentunya juga bukan perkara mudah untuk aku pribadi menilai sebuah film. karena setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing. Dan karena bisa tidak bisa tugas harus tetap dibuat, maka inilah dia hasilnya, jreng jreng jreng jreng...
RESENSI FILM BATAS
Judul : Batas
Produser : Marcella Zalianty
Sutradara : Rudi Soedjarwo
Penulis : Slamet Rahardjo
Pemain : Marcella Zalianty, Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C Noer, Ardina Rasti, Otiq Pakis, Norman Akyuwen, Marcell Domits, Alifyandra, Tetty Liz Indriati.
Antara Keinginan dan Kenyataan
Batas merupakan film yang menceritakan tentang seorang perempuan yang bernama Jaleswari, yang begitu ambisius dan totalitas dalam bekerja. Dia berani ditugaskan ke daerah pelosok Kalimantan yang terisolir dengan kondisi yang sedang hamil. Hal ini juga dilakukan untuk pelariannya melupakan kematian suami yang dicintainya, hingga ia berani mengambil segala resiko yang mungkin akan terjadi selama ia berada dalam daerah penugasan. Misinya yaitu untuk mencari tahu apa yang menjadi kendala sehingga program Corporate Social Responsibillity (CSR) di bidang pendidikan yang dilakukan oleh perusahaan tempatnya bekerja tidak berjalan dengan baik dan maksimal di Borneo, daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan. Semua guru yang telah dikirim ke daerah perbatasan tersebut oleh perusahaannya, kembali lagi ke Jakarta dan hal ini berpengaruh terhadap proyek yang sedang dia jalankan. Hanya Adeus yang bertahan menjadi guru di sana, itupun karena dia adalah pemuda asli daerah itu. Untuk itulah, Jaleswari ditugaskan ke daerah tersebut untuk terjun langsung melihat sendiri apa yang terjadi sehingga program CSR perusahaannya tidak berjalan lancar. Kehidupan di pedalaman Kalimantan yang terisolir sangat jauh berbeda dengan kehidupannya di Jakarta yang serba modern. Selain itu, masyarakat di sana juga memiliki cara pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Masyarakat Borneo lebih mementingkan anak-anaknya untuk bekerja daripada memperoleh pendidikan. Dengan segala kekurangan yang mereka miliki, mereka dihadapkan oleh sebuah perasaan apakah harus tetap tinggal di daerah kelahiran ataukah melewati batas perbatasan Indonesia-Malaysia untuk merasakan surga yang ditawarkan negara tetangga, ideologi bangsa pun diuji. Apalagi dengan batas teritori yang hanya ditandai dengan plang kecil, tanpa adanya pengawasan atau monitor dari pemerintah, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk keluar masuk perbatasan. Selama di sana, Jaleswari mengerti bahwa sistem pendidikan yang diinginkan perusahaannya tidak sesuai dengan keinginan masyarakat setempat. Dia juga mengalami konflik batin saat berhadapan pada masalah kemanusiaan yang terjadi di daerah itu ataukah hanya terfokus pada misi awalnya yang ditugaskan oleh perusahaan. Persoalannya adalah masyarakat di sana lebih memilih bekerja daripada harus mengenyam pendidikan. Apalagi di sana ada Otik, salah seorang warga Borneo yang menginginkan warga di desa itu tetap bodoh, agar ia bisa dengan leluasa menjual perempuan-perempuan di tempat itu ke negara tetangga. Namun kehadiran Jaleswari yang penuh semangat dan optimistis telah membakar semangat anak-anak di sana, khususnya Borneo, untuk belajar. Tidak hanya itu, ia juga menularkan semangatnya pada Adeus, juga pada Panglima Galiong Bengker (Kepala Suku Dayak) untuk membuat warganya berpendidikan. Film ini juga mengajarkan tentang ideologi, bahwa realitanya banyak masyarakat Indonesia yang hidup di daerah perbatasan, kemudian tergiur untuk hidup merantau ke negara sebelah yang lebih menjanjikan. Persoalannya adalah seberapa kuatkah kita untuk bertahan antara keinginan dan kenyataan. Selain itu film ini juga menampilkan sebuah daerah di pedalaman Kalimantan yang masih begitu kuat dengan nilai-nilai tradisional dan adat-istiadat yang kental, jauh dari peradaban dan kemajuan, dengan keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya sarana pendidikan. Sebuah gambaran masyarakat dengan kondisi pendidikan yang sangat rendah. Para orangtua terkesan seperti membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa pendidikan, menganggap bahwa bekerja lebih penting daripada belajar, sebuah pemikiran yang sangat berbeda dari masyarakat kota. Tentunya mengubah cara pandang masyarakat yang seperti itu bukanlah hal yang mudah, butuh proses yang tidak sebentar dan tentunya dibutuhkan kesabaran dan pemahaman. Karena untuk bisa memahami orang lain maka harus dipahami dahulu cara berpikir orang tersebut. Padahal banyak anak di sana yang sebenarnya memiliki semangat untuk belajar dan bercita-cita tinggi, seperti Borneo misalnya, yang bercita-cita ingin menjadi presiden. Namun dengan kondisi daerah yang demikian, mereka tidak memiliki pilihan selain melakukan apa yang diharapkan orangtuanya. Terakhir adalah film Batas ini memiliki makna batas yang beragam. Batas berarti sejauh mana batas seorang Jaleswari dalam mengenal lingkungan yang baru ia tinggali dan beradaptasi dengan segala perbedaannya, kemudian juga ada Adeus yang harus berhadapan dengan batas kemampuan dirinya dalam menghadapi masalah yang datang dari Otik, antara ingin memperjuangkan keinginan anak-anak untuk belajar ataukah menyerah pada tekanan-tekanan yang diberikan Otik untuk menghentikan langkahnya tersebut. Batas berarti masyarakat yang hidup di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Batas berarti hidup dalam keterbatasan pendidikan, sarana-prasarana maupun fasilitas. Batas berarti keterbatasan untuk memilih antara keinginan atau kenyataan. Dan batas berarti betapa budaya dan adat istiadat menjadi batas dalam menjalani hidup. Secara keseluruhan, batas menggambarkan bagaimana sekelompok orang yang berusaha untuk keluar dari batas kenyamanan diri mereka ketika dihadapkan pada sebuah tantangan maupun permasalahan supaya bisa terselesaikan dengan segera.
KRITIK
Batas Tak Berarti Terbatas
Jaleswari suatu ketika ditugaskan oleh pimpinan perusahannya untuk menyelidiki penyebab gagalnya kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan mereka di sebuah daerah terpencil di perbatasan Kalimantan. Dengan durasi tayangan yang hampir mencapai dua jam, Batas mencoba menceritakan mengenai banyak hal. Sejak awal, film ini diceritakan dengan begitu kompleks, dengan berbagai kasus, mulai dari menceritakan sosok Jaleswari dengan semangat dan optimistisnya, kemudian juga ada cerita daerah perbatasan Kalimantan yaitu wilayah Entikong, yang begitu terisolir dengan kualitas pendidikan yang begitu memprihatinkan, kemudian juga pemikiran masyarakat di sana bahwasanya anak-anak lebih baik bekerja daripada belajar. Lalu ada Otik, seorang warga Borneo yang menginginkan warga-warga di sana agar tetap bodoh dan apatis terhadap pendidikan, supaya memuluskan jalannya untuk bisa memperjualbelikan para wanita di wilayah itu ke negara tetangga. Juga ada Adeus, satu-satunya guru di Desa itu yang merasa tertekan dengan ancaman dari Otik yang melarangnya untuk mengajar anak-anak di desa tersebut. Ada masalah Kepala Adat Dayak dan mantan istrinya yang hubungannya sudah tidak rukun lagi sejak kematian anaknya, dan terakhir tentang misteri kejadian yang dialami Ubuh, wanita misterius yang ditemukan warga setempat di Hutan dengan luka traumatiknya yang luar biasa. Film ini menceritakan banyak sisi dan begitu kompleks. Dan untuk menceritakan rangkaian konflik tersebut dengan lancar tentunya bukanlah hal yang mudah. Beberapa kali “Batas” terlihat seperti kehilangan fokus dalam penceritaannya. Dari satu cerita beralih ke cerita yang lain, dan perlahan-lahan setiap misteri dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak penonton yang melihat film ini mulai terbuka dan terjawab. Walaupun saya merasa ada sedikit kebingungan dalam memaknai beberapa adegan dikarenakan ceritanya yang memuat beberapa sudut pandang, sehingga ada beberapa plot yang seakan tidak terselesaikan dengan baik. Walaupun begitu, sutradara film ini, Rudi Soedjarwo, mampu menghadirkan susunan cerita yang kuat dan menarik dengan menampilkan balutan gambar-gambar dengan panorama alam Entikong yang indah, adegan para tokoh yang begitu menjiwai setiap peran yang dimainkannya, mampu membuat penonton terhibur dan hanyut ke dalam alur cerita tersebut. Keunggulan dari film ini adalah walaupun cerita ini bukan berdasarkan kisah nyata, namun konflik yang dimunculkan dalam film ini merupakan fenomena atau realita yang kerap terjadi di wilayah perbatasan Kalimantan. Tentang nilai dan adat istiadatnya, sistem pendidikannnya, daerah yang terisolir dan jauh dari peradaban dan sentuhan kemajuan, serta tentang ideologi bangsa yang sering terkalahkan dengan realita bahwa masyarakat di wilayah perbatasan tersebut ingin hidup lebih baik dengan merantau ke negara tetangga yang lebih mampu menawarkan apa yang tidak mampu ditawarkan negaranya sendiri.
Selasa, 19 November 2013
Open-Minded
Malam senin lalu (17/11/2013), digelar acara Grand Final pemilihan Duta Wisata Indonesia di Gedung AAC Dayan Dawood, dimulai pada pukul 19.30 wib. Sejak pukul 7 aku sudah sampai di gedung tersebut. Sebenarnya nggak ada rencana juga untuk pergi, karena awalnya teman aku bilang kalau acaranya akan diadakan di hermes hotel. Tapi tiba-tiba aja teman aku bbm kalau ternyata acaranya di gedung AAC Dayan Dawood dan MC nya itu Indra Bekti, makin semangat dong mau nonton, apalagi juga jaraknya nggak jauh dari rumah. Acara ini dihadiri oleh duta-duta wisata dari daerah lainnya juga dan kali ini giliran Aceh yang berkesempatan menjadi tuan rumahnya. Yang paling menarik adalah saat Ketua Umum Yayasan Duta Wisata Indonesia membuka acara tersebut. Dia bercerita tentang daerahnya yaitu Bali, yang setiap tahunnya dikunjungi oleh para wisatawan sekitar 7 juta jiwa, sedangkan jumlah penduduknya sendiri hanya sekitar 3,5 juta jiwa. Tanpa perlu melakukan promosi pun para wisatawan akan selalu datang membanjiri Bali. Hal ini yang paling utama disebabkan karena masyarakat Bali yang terbuka terhadap para pendatang.
Mendengar itu, aku tahu bahwa inilah yang sampai saat ini menjadi kendala bagi Aceh untuk bisa menjadi destinasi wisata khususnya wisata bahari. Padahal tempat-tempat wisata bahari di Aceh tidak kalah cantiknya, seperti yang terkenalnya Sabang, pantai Lampuuk, atau Lhoknga. Tapi masih banyak tempat wisata bahari lainnya yang nggak kalah cantiknya. Seperti pantai Pasir putih, air terjun Lhoong, Danau Laut Tawar, Pulau Bunta, dan banyak lainnya. Daerah Wilayah Barat Selatan juga tidak kalah terkenal dengan wisata baharinya. Dulu sebelum tsunami, saat rumah nenekku di daerah Aceh Jaya masih ada, aku paling suka bermain ke pantai, menikmati suasana pagi dan sunsetnya. Apalagi pantai di sana (dulu) masih begitu alami, belum terjamah oleh tangan-tangan manusia. Pantainya bersih dari sampah, airnya biru, pasirnya putih. Suara ombaknya terdengar sampai ke rumah nenek, I really miss the moment :(
Nah, balik lagi ke statement Bapak itu, aku kembali teringat bahwa yang menjadi kendala yang membuat banyak orang merasa enggan ke Aceh adalah karena kurangnya keterbukaan masyarakat terhadap budaya-budaya barat/asing. Hal ini bisa dilihat ya, kalau ada orang-orang yang agak berbeda dari kita, katakanlah tidak menggunakan jilbab atau melihat turis asing pasti langsung dilihatin kayak sesuatu yang "aneh" atau "berbeda". Kadang fenomena ini sendiri membuat aku bingung, apalagi kalau ada orang-orang di sekitar aku yang melakukan hal itu, maksud aku ya zaman sudah modern tapi kok masih mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Bagus dong kan kalau banyak turis yang datang jadi bisa menambah pemasukan daerah, juga menjadi momen untuk kita memperkenalkan budaya-budaya Aceh kepada orang luar. Selain itu juga banyak rumor negatif tentang Aceh. Ada teman dekat aku, Mila, dia anak Medan. Dia mendengar kalau di Aceh itu ada petugas Wilayatul Hisbah (WH) yang bertugas untuk menangkap orang-orang yang berpakaian ketat dan tidak menggunakan jilbab. Makanya saat dia melanjutkan kuliah di sini, dia datang dengan menggunakan pakaian yang (maaf-maaf kata nih) seperti emak-emak tahun 1980-an :D
Hal ini juga sempat aku tanyakan padanya tentang pakaian yang "you know lah", dan dia bilang karena takut ditangkap WH makanya menggunakan pakaian seperti itu. Memang banyak orang luar yang berpikiran seperti itu, tapi kenyataannya di Aceh kami memang memakai jilbab dan menutup aurat tapi tetap bisa bergaya modis ala-ala hijabers. Mungkin terakhir yang bisa aku bilang bahwa sebaik atau sebagus apapun strategi yang dilakukan pemerintah dalam menarik wisatawan datang ke Aceh, jika kendala utamanya (masyarakat yang tidak open-minded) masih belum bisa dihilangkan maka agak sulit untuk meningkatkan jumlah wisatawan. Karena ketika kita datang ke suatu tempat yang paling menyenangkan adalah selain bisa menikmati suasana di tempat tersebut, juga keramahan dan keterbukaan masyarakatnya yang menjadi daya tarik tersendiri.
Sabtu, 02 November 2013
Relaksasi dengan Musik Instrumental
Hari minggu adalah waktunya buat bersantai, melepas penat setelah seminggu sibuk beraktivitas. Nah, mau tahu cara supaya bisa relaks di akhir pekan? Caranya mudah kok, diikutin ya tips dari aku :)
Pertama-tama kamu siapkan segelas coklat hangat, lalu kamu putar lagu-lagu instrumental seperti lagu-lagunya Yiruma, atau lagu instrumental lainnya. Ada beberapa yang bisa aku rekomendasiin buat kamu, tentunya musik-musik instrumental yang suka aku dengar saat bersantai. Seperti, musik Yiruma yang "My heart I give to you", beneran ya ini musik menyayat banget, buat kamu yang sedang menyukai seseorang memang pas banget sama lagu ini, ngena banget, serius. Pertama kali mendengar musik instrumental yang satu ini, aku langsung merinding. Lalu yang berikutnya masih lagunya Yiruma juga yang judulnya "love me", "maybe", "hold my hand", "hope", "river flows in you", "If I could see you again". Juga ada musik yang jadi backsound di film winter sonata yang judulnya "my memory". Selanjutnya, aku juga suka lagunya Christina Perri "a thousand year" yang versi pianonya, tadi baru aja aku dengar di youtube, lebih menyayat mendengar musik tanpa lirik ternyata, walaupun kita nggak bisa mendengar kalimat-kalimat yang menyentuh, tapi irama, nada, denting-denting piano bisa menyampaikan pesan-pesan yang tersirat di dalamnya. Sangat memanjakan telinga. Coba deh kamu cari posisi duduk yang enak, di atas kursi santai sambil selonjoran, hembusan angin membelai-belai pipi, kamu putar musik-musik ini sambil sesekali menyeruput coklat hangat yang sudah kamu buat, lalu coba kamu pejamkan mata selama mendengar musik-musik itu, kamu hayati setiap nada yang ada, dan kamu akan bisa merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa. Kegiatan ini yang sering aku lakukan kalau lagi nggak ada kerjaan, karena aku juga penikmat lagu, jadi kapanpun kalau nggak ada aktivitas, aku selalu menghibur diri dengan mendengar musik, karena mendengar musik merupakan salah satu cara melepaskan segala kepenatan dalam diri. Rasa bosan, sedih, penat, hampa, menguap entah kemana. Musik juga yang menjadi teman di saat kesepian di rumah. Karena kalau sendirian di rumah, kadang aku suka parno sendiri. Jadi supaya nggak merasa takut dan rileks, biasanya aku mencoba menghibur diri dengan memutar musik. Okay deh, segitu aja ya, bisa dicoba guys tipsnya, semoga bermanfaat, happy weekend :)
Malam minggu dan Yiruma, hubungannya apa??? _-_
Selamat malam minggu buat semua pasangan yang merayakan dan buat yang stay di rumah aja juga selamat ya, selamat menonton, atau selamat membaca, atau selamat tidur, atau selamat datang di blog aku :)
Sebenarnya sama aja sih malam minggu atau malam-malam lain, terutama bagi yang single tentunya biasa aja, nothing special. Mungkin kalau dulu waktu masih sekolah, yang bikin senang dari malam minggu ya karena besoknya bakal libur jadi bisa begadang dan bisa bangun telat pastinya :)
Tapi karena aku sekarang sudah menjadi mahasiswi tingkat akhir, yang mata kuliah tinggal tiga lagi dan sedang kebingungan nyari judul skripsi, tentunya nggak ada bedanya antara malam minggu atau malam lain, karena setiap hari bisa begadang dan bangun telat, nggak harus menunggu hari minggu datang. Jadi daripada malam ini nggak tahu ngapain, mending aku menulis di blog. Manfaatnya apa? Pertama, bisa melatih kecepatan tangan mengetik di layar iPad. Kedua, bisa menari-narikan tangan untuk merangkai kata-kata yang sekarang sedang aku pikirkan. Ketiga, untuk menyemakkan blog sendiri dengan hal-hal nggak penting untuk kalian baca, tapi begitu menyenangkan buat aku. Karena menulis adalah salah satu dari sekian banyak hal yang aku sukai. Menulis membuat lidahku bergerak untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang sedang aku tulis, membuat telingaku dimanja dengan rangkaian kalimat yang dilafalkan mulutku, menyehatkan mataku untuk melihat setiap baris kalimat yang telah aku tuliskan. Topik yang mau aku bahas malam ini adalah about "Yiruma". Kalian pernah mendengarnya?? Dia adalah seorang pianis dan komposer internasional yang populer dari Korea Selatan. Yiruma adalah nama panggung dari I Ru-ma, lahir 15 februari 1978. Nama Yiruma dalam bahasa Korea berarti "aku akan mencapai". Dia mulai bermain piano saat berusia lima tahun, dan pindah ke London saat berusia 11 tahun untuk belajar di School of Music Purcell. Setelah itu, ia melanjutkan aspirasi musiknya dan menyelesaikan komposisi utama dari King College London pada bulan Juni 2000.
Nah, kenapa malam ini tiba-tiba aku cerita tentang Yiruma? karena beberapa hari ini aku mulai menyukai lagu-lagu instrumental yang dia mainkan. Denting-denting suara pianonya begitu merdu, lembut, dan menyentuh. Walaupun cuma alunan musik yang terdengar dan tanpa kalimat-kalimat puitis, tapi pesan dari lagu-lagu yang dia mainkan bisa tersampaikan dengan sangat baik. Setiap mendengar lagu-lagunya Yiruma, seperti ada yang menyanyikan lagu selamat tidur untukku, mata perlahan-lahan mulai menutup dan terlelap. Makanya aku suka banget mendengar lagu-lagunya Yiruma akhir-akhir ini. Beberapa dari lagunya yang ada di playlist aku, seperti River flows in you, hope, hold my hand, a walk in the forest, dan maybe. Sebenarnya masih banyak judul-judul lainnya tapi belum sempat aku download. Tapi beneran enak loh musiknya, bisa coba di download deh :)
Kenapa aku bisa tiba-tiba suka sama lagu-lagu instrumental? Jadi ceritanya, aku sedang mencari-cari lagu yang bisa jadi backsound buat film pendek yang kelompok aku sedang garap. Setelah beberapa hari pencarian, jadi ketemulah sama lagu ini dan ternyata memang lagunya enak, mellow gallow swallow jadinya haha :)
Sabtu, 26 Oktober 2013
Kisah Maman menginspirasiku :)
Dan... Besok kita mulai take gambar, full seharian dari pagi hingga malam, sampai selesai aktivitas narasumber. Jadi film yang mau kita buat ini bercerita tentang perjuangan seorang anak lelaki berusia 15 tahun yang sudah bekerja menjual kantong-kantong plastik sejak masih kecil. Setelah lulus SD, dia tidak bisa lagi melanjutkan sekolah karena tidak adanya biaya. Sejak saat itu, dia mulai bekerja untuk membantu keluarganya. Selain menjadi penjual kantong plastik di pasar ikan, siangnya setelah selesai berjualan, dia pergi menangkap ikan untuk kemudian dijual lagi. Semua pekerjaan dilakukannya untuk mendapatkan uang. Mengapa aku bisa mengenal anak hebat ini? Aku mengetahui cerita tentang anak ini setahun lalu dari mamaku. Mama mengenalnya di pasar ikan saat anak itu menjual kantong plastiknya pada mama. Sejak saat itu, setiap bertemu mama di pasar, dia langsung menarik tangan mama dan meminta supaya mama membeli kantong plastiknya. Dia juga sempat beberapa kali menceritakan kisah hidupnya pada mamaku. Mama penasaran kenapa dia tidak bersekolah dan malah berjualan kantong. Dari situlah mengalir cerita-ceritanya itu. Jadi makanya setiap berjumpa dengan anak itu di pasar, mama pasti selalu membeli kantong plastiknya atau sekedar memberi uang jajan pada anak itu, bukan karena butuh plastik tetapi karena rasa simpati. Di rumah, mama mulai menceritakan tentang anak itu kepada kami, bagaimana semangatnya bekerja, perjuangannnya menjadi tulang punggung keluarga hingga mengorbankan cita-citanya untuk bersekolah. Sebenarnya dia sangat ingin bersekolah lagi, namun dia bilang "pengen sekolah, tapi buat apa kalau setelah dua hari bersekolah lalu tiba-tiba harus berhenti karena nggak ada uang lagi, jadi lebih baik kerja saja jadi uangnya bisa dikasih untuk mamak. Kasian mamak nggak ada uang." Makanya waktu di suruh buat film, aku teringat kembali tentang anak kecil yang mamaku cerita. Aku begitu tergugah mendengar perjuangan dan semangat anak lelaki itu, sampai tak tahan airmata mengalir saat mendengar mama bercerita tentangnya. Jadilah hari kamis kemarin, aku mengajak teman-teman kelompokku untuk mencarinya di pasar ikan, Peunayong. Namun ternyata hari itu dia tidak datang. Tapi kami tak menyerah. Aku dan Zumar pergi mencari rumahnya dengan hanya bermodalkan nama desanya dan informasi bahwa dulu abangnya itu meninggal karena jatuh ke dalam sumur. Bahkan namanya saja aku belum tahu, karena waktu aku menanyakannya pada mama rupanya mama lupa menanyakan nama anak itu. Setelah bertanya ke sana kemari, untungnya ada seorang bapak paruhbaya yang berbaik hati mengantar kami ke rumah neneknya anak itu. Awalnya bapak itu sempat sangsi karena kami tidak tahu siapa nama anak itu. Namun karena kami bilang dulu abangnya ada yang meninggal jatuh ke dalam sumur jadi dia mulai tahu. Setelah dia mengantarkan kami ke rumah nenek anak itu, kami berjumpa dengan pamannya anak itu. Pamannya lah yang kemudian mengantarkan kami ke rumah anak itu. Dari pamannya lah kami tahu bahwa anak itu bernama Maman. Lalu pamannya menunjukkan jalan ke rumah Maman. Lumayan jauh juga jarak antara rumah Maman dengan jalan besar. Jalanan ke rumahnya tidak bagus dan berbatu. Sesampainya di rumah Maman, kami melihat rumahnya hanya sepetak yang terbuat dari kayu. Kondisinya agak memprihatinkan. Namun Maman tidak ada di rumah. Rupanya dia sedang memancing ikan di kolam yang tak jauh dari rumahnya. Sambil menunggu Maman pulang, kamipun berbincang-bincang dengan kedua orangtuanya. Ternyata hari itu Maman memang tidak berjualan kantong di pasar tetapi sedang memancing ikan, hasil tangkapannya nanti akan dijual olehnya untuk mendapatkan uang. Mendengar itu, aku kembali teringat pada cerita mamaku tempo hari saat terakhir kali bertemu Maman di pasar. Mama bertanya mengapa jarang sekali melihat Maman berjualan plastik di pasar. Lalu Maman bilang kalau dia tidak pergi karena tidak ada ongkos naik angkutan umum. Karena tahu sendiri kan biaya hidup di Aceh bisa dibilang lebih mahal dibandingkan daerah-daerah lain. Ongkos angkutan umum dari rumahnya ke pasar aja bisa sampai 7000, pulang pergi jadi 14000. Bayangkan biaya naik angkutan umum aja bisa semahal itu, makanya kadang kalau nggak ada uang untuk naik angkutan umum, dia hanya mendapat uang dari memancing. Nanti kalau sudah ada uang lagi buat ongkos baru pergi lagi berjualan ke pasar. Hari itu, Maman mengajak temannya untuk ikut memancing bersamanya. Dia bilang supaya temannya itu juga bisa punya uang sendiri dan bisa meringankan beban orangtuanya juga. Betapa baik ya hati Maman. Kadang-kadang juga katanya kalau ada ibu-ibu yang tidak mampu meminta ikan hasil tangkapannya akan diberikan secara cuma-cuma. Dia hidup kekurangan tapi masih suka berbagi dengan orang lain. Ironis memang hidup ini. Banyak orang yang bergelimang harta tapi begitu takut memberi pada yang membutuhkan. Tapi Maman yang tak punya apa-apa masih suka memberi dan menolong orang lain. Di sore hari, dia juga selalu pergi mengaji bersama teman-temannya. Jadi walaupun hidup kekurangan tapi Maman tetap dekat dengan Tuhan. Nilai-nilai agama masih tertanam kuat dalam dirinya. Hal yang sangat jarang ditemukan pada orang-orang yang tinggal di kota. Makanya aku semangat banget untuk membuat film tentang Maman ini karena kisah hidupnya yang sangat menginspirasiku. Dan semoga kalau film ini nantinya selesai digarap, juga bisa menginspirasi banyak orang untuk menyukuri dan menerima apa yang telah diberikan Tuhan, baik dan buruknya. Satu kata yang paling aku sukai dan akan aku sisipkan di kata penutup film ini adalah "karena manusia ada, dilihat dari seberapa besar manfaatnya bagi orang lain". Yup, aku suka sekali kalimat itu, karena eksistensi kita sebagai manusia dianggap ada tergantung pada seberapa besar manfaat kita bagi orang lain, makanya sering-seringlah menolong orang lain dan berbuat kebaikan karena dengan begitu kita dianggap ada dan istimewa :)
Rabu, 23 Oktober 2013
Videografi itu Makanan Apa sih???? _-_
Yang paling menyebalkan dari semester tujuh ini adalah ada mata kuliah "videografi". Demi apapun aku nggak suka yang namanya ngambil gambar, take ini take itu, ribeeeeet bet bet.
Semester kemarin yang cuma buat iklan aja capeknya setengah mati, dari pagi buat sampai sore nggak siap-siap, parahnya lagi dosennya minta kita yang jadi modelnya. Di suruh ngomong, akting depan kamera, asli bego, kapok sekapok-kapoknya. Memang dibalik layar itu lebih enak. Dan semester ini dapat lagi mata kuliah "videografi". Dari namanya aja udah bau-bau disuruh buat film, dan tebakan Anda benar sekali. Kenapa saya nggak suka buat film? Pertama, saya bukan orang yang kreatif terutama soal "ide". Kedua, saya nggak paham soal teknik pengambilan gambar, walaupun semester kemarin udah ngambil mata kuliah fotografi tetap aja nggak ngerti soal ISO, diafragma, speed. Kalo soal teorinya doang sih ngerti, tapi yang Anda harus tahu adalah teori dan praktek itu jauuuuuuuuuuh banget bedanya. Anda boleh jadi pintar banget teori tapi belum tentu dalam prakteknya Anda bisa sepintar di teori. Pengalaman ini aku rasain banget waktu belajar jurnalis di Muharram Journalism College (MJC) setahun yang lalu. Karena aku suka nulis jadi aku memilih mengambil kelas cetak dibanding televisi, karena kayak aku bilang tadi kalau aku agak gaptek kalau berhubungan sama kamera. Waktu belajar teorinya enak banget, seru rasanya jadi tahu banyak tentang dunia jurnalis. Tapi begitu mulai magang jadi wartawan dan ditempatin di media mulai deh kebingungan. Kebetulan aku ditempatin di media cetak Analisa. Teman-teman yang lain semuanya ditempatin di media online, kadang suka ngiri liat mereka mudah banget dinaikin beritanya. Lah, aku telat ngirim dikit aja sudah lewat nggak bisa dimuat lagi. Dan selama 2 minggu aku magang di situ, cuma 11 kali aku mengirim berita dan cuma 5 berita yang dimuat. Dapatin berita segitu rasanya perjuangan banget. Pertama, aku bukan orang yang suka ngukur jalan (jalan-jalan nggak jelas). Kedua, aku nggak punya insting wartawan yang kalau liat sesuatu langsung deh dijadiin berita. Ketiga, aku nggak dikasih ngeliput berita-berita ceremonial atau berita yang sedang diliput oleh wartawan lainnya, bingung nggak tuh? Jadilah selama magang, aku mikirin masalah apa kira-kira yang bisa aku angkat ke publik. Dan rata-rata yang dimuat soal "masalah ekonomi masyarakat kecil".
Makanya aku bilang antara teori dan praktek itu sangat jauh berbeda. Pintar teori belum tentu akan pintar juga dalam prakteknya, begitu juga sebaliknya. Dan besok rencananya kita mulai ngambil gambar tapi masalahnya anak cowoknya pada mau main futsal jadilah kami (anak-anak cewek) yang harus ngambil gambar. Apa yang harus kami lakukan dengan kamera dan tripod besok? I dont know, we will see :(
Semester kemarin yang cuma buat iklan aja capeknya setengah mati, dari pagi buat sampai sore nggak siap-siap, parahnya lagi dosennya minta kita yang jadi modelnya. Di suruh ngomong, akting depan kamera, asli bego, kapok sekapok-kapoknya. Memang dibalik layar itu lebih enak. Dan semester ini dapat lagi mata kuliah "videografi". Dari namanya aja udah bau-bau disuruh buat film, dan tebakan Anda benar sekali. Kenapa saya nggak suka buat film? Pertama, saya bukan orang yang kreatif terutama soal "ide". Kedua, saya nggak paham soal teknik pengambilan gambar, walaupun semester kemarin udah ngambil mata kuliah fotografi tetap aja nggak ngerti soal ISO, diafragma, speed. Kalo soal teorinya doang sih ngerti, tapi yang Anda harus tahu adalah teori dan praktek itu jauuuuuuuuuuh banget bedanya. Anda boleh jadi pintar banget teori tapi belum tentu dalam prakteknya Anda bisa sepintar di teori. Pengalaman ini aku rasain banget waktu belajar jurnalis di Muharram Journalism College (MJC) setahun yang lalu. Karena aku suka nulis jadi aku memilih mengambil kelas cetak dibanding televisi, karena kayak aku bilang tadi kalau aku agak gaptek kalau berhubungan sama kamera. Waktu belajar teorinya enak banget, seru rasanya jadi tahu banyak tentang dunia jurnalis. Tapi begitu mulai magang jadi wartawan dan ditempatin di media mulai deh kebingungan. Kebetulan aku ditempatin di media cetak Analisa. Teman-teman yang lain semuanya ditempatin di media online, kadang suka ngiri liat mereka mudah banget dinaikin beritanya. Lah, aku telat ngirim dikit aja sudah lewat nggak bisa dimuat lagi. Dan selama 2 minggu aku magang di situ, cuma 11 kali aku mengirim berita dan cuma 5 berita yang dimuat. Dapatin berita segitu rasanya perjuangan banget. Pertama, aku bukan orang yang suka ngukur jalan (jalan-jalan nggak jelas). Kedua, aku nggak punya insting wartawan yang kalau liat sesuatu langsung deh dijadiin berita. Ketiga, aku nggak dikasih ngeliput berita-berita ceremonial atau berita yang sedang diliput oleh wartawan lainnya, bingung nggak tuh? Jadilah selama magang, aku mikirin masalah apa kira-kira yang bisa aku angkat ke publik. Dan rata-rata yang dimuat soal "masalah ekonomi masyarakat kecil".
Makanya aku bilang antara teori dan praktek itu sangat jauh berbeda. Pintar teori belum tentu akan pintar juga dalam prakteknya, begitu juga sebaliknya. Dan besok rencananya kita mulai ngambil gambar tapi masalahnya anak cowoknya pada mau main futsal jadilah kami (anak-anak cewek) yang harus ngambil gambar. Apa yang harus kami lakukan dengan kamera dan tripod besok? I dont know, we will see :(
Langganan:
Postingan (Atom)

