Senin, 06 Januari 2014

Makalah-Tugas Kelompok-Resensi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Dalam sebuah karya yang telah dihasilkan perlu adanya penilaian terkait dengan karya tersebut. Resensi merupakan sebuah tulisan yang berisi tentang penilaian sebuah karya, bisa berupa buku ataupun film. Resensi sebuah karya tidak hanya dipajang di beberapa surat kabar maupun majalah. Resensi digelar di kampus, televisi, radio, toko buku, ataupun internet. Bahkan sebagian besar surat kabar telah menyediakan kolom atau halaman khusus untuk memajang masalah perbukuan ini.
            Dalam kegiatan resensi, juga perlu adanya penelitian yang seimbang. Penilaian yang seimbang akan memberikan makna tersendiri bagi penulis, penerbit, dan pembaca.
            Resesi diperlukan untuk mengetahui informasi dari sebuah buku. Buku yang diresensi  merupakan buku yang baru diterbitkan. Melalui resensi, masyarakat pembaca dapat memperoleh informasi tentang penting tidaknya buku itu untuk dibaca dengan berbagai keunggulan dan kelemahan yang terdapat pada buku tersebut.
Menulis resensi berarti menyampaikan informasi mengenai ketetapan buku bagi pembaca. Didalamnya disajikan  berbagai ulasan  mengenai buku  tersebut dari berbagai segi. Ulasan ini dikaitkan dengan selera pembaca dalam upaya memenuhi kebutuhan akan bacaan yang dapat dijadikan acuan bagi kepentingannya. Dalam makalah ini akan dibahas segala sesuatu tentang resensi yaitu pengertian atau definisi ,tujuan resensi dan sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah
            1. Apa itu pengertian resensi?
            2. Apa saja tujuan resensi?
            3. Apa sajakah dasar-dasar resensi?
            4. Bagaimana pola tulisan resensi?
            5. Apa sajakah langkah-langkah meresensi buku?
            6. apa sajakah unsur-unsur resensi?

1.3 Tujuan Penulisan
            1. Untuk mengetahui pengertian resensi
            2. Untuk mengetahui tujuan resensi
            3. Untuk mengetahui dasar-dasar resensi
            4. Untuk mengetahui pola tulisan resensi
            5. Untuk mengetahui langkah-langkah meresensi buku
            6. untuk mengetahui apa saja unsur-unsur resensi


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Resensi
Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya, baik itu buku, novel, majalah, komik, film, kaset, CD, VCD, maupun DVD. Tujuan resensi adalah menyampaikan informasi kepada para pembaca tentang sebuah karya.
Resensi berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal sebagai recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama, yaitu mengulas sebuah buku.
Di Indonesia, resensi sering juga diistilahkan dengan timbangan buku, tinjauan buku, dan bedah buku. Adapun menurut Webster Collegate Dictionary (1995), review adalah a critical evaluation of a book, karena itu pada hakikatnya resensi haruslah menjelaskan apa adanya suatu buku; kelebihan dan kekurangan buku itu. Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Resensi adalah suatu jenis karangan yang berisi pertimbangan baik atau buruknya suatu karya. Resensi bertujuan untuk menyampaikan kepada pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. Bertolak dari tujuannya, resensi bermanfaat bagi para pembaca untuk menentukan perlu tidaknya membaca buku tertentu atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni. Dalam arti lebih luas, resensi dibuat juga untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan terhadap karya-karya seni lainnya seperti drama, film, dan sebuah pementasan. Karena pertimbangan yang disampaikan penulis resensi itu harus disesuaikan dengan selera pembaca, maka sebuah resensi yang disiarkan sebuah majalah mungkin tidak sama dengan yang disiarkan pada majalah lain. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku.
Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku tentu menginformasikan isi buku kepada masyarakat luas. Dalam meresensi sebuah karya harus berkaitan dengan kualitas dari karya yang sedang dicermati atau diresensi tersebut. Penilaian tersebut harus dilakukan secara seimbang dan proporsional. Maksudnya ialah tidak boleh seorang peresensi tersebut hanya memberikan penilaiannya yang positifnya saja atau tidak tepat juga jika resensi itu hanya dilakukan untuk menilai kelemahan dan kekurangannya saja.
Jika diklasifikasikan, ada tiga bidang garapan resensi, yaitu (a) buku, baik fiksi maupun non fiksi; (b) pementasan seni, seperti film, sinetron, drama, musik, atau kaset; (c) pameran seni, baik seni lukis maupun seni patung.
Secara umum, resensi dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.      Deskriptif, ialah mengggambarkan dan menjelaskan tentang karya seseorang secara menyeluruh, baik dari segi isi, penulisannya, maupun penciptanya (creator). Resensi ini tidak sampai pada penilaian kritik (bagus/tidak) si penulis terhadap karya yang dia resensi. Dia hanya menjelaskan secara singkat tentang isi, proses, dan pencipta sebuah karya.

2.      Deskriptif evaluatif, ialah melakukan penilaian terhadap sebuah karya lebih dalam daripada yang pertama. Dia tidak hanya menggambarkan, tapi menilai sebuah karya secara keseluruhan dengan kritis dan argumentatif. Sehingga ada kesimpulan pada akhir resensi apakah karya yang diresensi baik kualitasnya atau tidak.


3.      Deskriptif-komparatif, ialah mencoba melakukan penilaian pada sebuah karya dengan cara membandingkan karya orang lain yang memiliki kesamaan atau keterkaitan secara isi dan materi. Selain membutuhkan analisa mendalam dan kritis, resensi ini juga membutuhkan pengetahuan dan wawasan luas. Karena tidak hanya satu karya yang harus dipahami, namun karya-karya lain yang berhubungan dengan karya yang dia resensi juga harus pula dia pahami.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa tiga jenis resensi buku adalah :
1. Informatif; maksudnya, isi dari resensi hanya secara singkat dan umum dalam, menyampaikan keseluruhan isi buku.
2.  Deskriptif; maksudnya, ulasan bersifat detail pada tiap bagian/bab.
3. Kritis; maksudnya, resensi berbentuk ulasan detail dengan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Isi dari resensi biasanya kritis dan objektif dalam menilai isi buku.
Ketiga jenis resensi di atas tidak baku. Bisa jadi resensi jenis informatif namun memuat analisa deskripsi dan kritis. Dengan demikian, ketiganya bisa diterapkan bersamaan.

2.2 Tujuan Resensi
            Sebelum meresensi, hendaknya peresensi memahami tujuan resensi. Berikut adalah tujuan resensi :
a.       Menyampaikan informasi kepada pembaca apakah sebuah karya patut mendapat sambutan atau tidak.
b.      Menunjukkan kepada para pembaca layak tidaknya sebuah buku dibaca.
c.       Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku.
d.      Memberitahukan kepada pembaca perihal buku-buku baru dan ulasan kelebihan maupun kekurangan buku tersebut.

Untuk menulis resensi, kita harus memerhatikan dari sisi latar belakang dan nilai buku.
a.       Latar Belakang
Agar resensi bermanfaat bagi para pembaca, maka penulis mulai menyajikan resensi dengan mengemukakan latar belakang buku itu, dimulai dengan tema dari karangan buku tersebut. Penyajian temanya secara singkat itu dapat juga dilengkapi dengan deskripsi buku tersebut, sehingga para pembaca yang belum tahu dapat memperoleh gambaran mengenai isi buku tersebut. Deskripsi buku itu bukan hanya tentang isinya tetapi juga dapat menyangkut badan mana yang menerbitkan buku itu, kapan dan di mana diterbitkan, berapa tebalnya, dan formatnya. Penulis resensi juga dapat memperkenalkan pengarangnya: namanya, ketenaran yang diperolehnya, buku atau karya mana yang telah ditulisnya, atau mengapa ia sampai menulis buku itu.

b.      Macam dan Jenis Buku
Para pembaca memiliki selera yang berbeda. Oleh karena itu, penulis resensi harus membuat klasifikasi mengenai buku tersebut. Dengan memasukkannya ke dalam kelas buku tertentu, akan mudah menunjukkan persamaan dan perbedaan dari buku-buku lain, sehingga pembaca akan tertarik untuk membacanya dan ingin mengetahui lebih lanjut mengenai buku tersebut.

c.       Keunggulan Buku
Untuk memberikan evaluasi terhadap sebuah buku yaitu dengan cara mengemukakan segi-segi yang menarik dari buku itu. Mengenai keunggulan buku, peresensi pertama-tama mempersoalkan kerangka buku itu, hubungan antarsatu bagian dengan bagian yang lain. Yang kedua untuk menilai dari dekat sebuah buku, penulis resensi juga mempersoalkan bagaimana isinya. Hal yang ketiga dari masalah buku yaitu bahasa yang digunakan, bagaimana bahasa penulis dalam menulis buku tersebut. Menilai sebuah buku berarti memberi saran kepada para pembaca untuk menolak atau menerima kehadiran buku itu. Penulis resensi harus tetap berusaha untuk memberi kesan kepada pembaca bahwa penilaiannya telah diberikan secara tepat dan objektif.

d.      Menilai Buku
Dengan memberikan gambaran mengenai latar belakang dan mengemukakan pokok-pokok  yang menjadi sasaran penilaian, peresensi sebenarnya telah memberikan pendapatnya mengenai nilai buku itu. Mengkritik berarti memberi pertimbangan, menilai, dan menunjukkan kelebihan-kelebihan buku itu secara penuh tanggung jawab. Tugas utamanya peresensi yaitu membuat penilaian secara jujur dan objektif terhadap sebuah buku, menganalisis tujuan penulisan buku, kualifikasi penulisnya, serta membandingkannya dengan buku-buku lain. Sebelum menulis resensi, seseorang harus membaca buku yang akan diresensi secara utuh. Di bawah ini, beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman menyusun resensi, yaitu:
1.      Penulis resensi harus mengetahui jenis buku yang akan diresensi;
2.      Sebutkan keunggulan buku tersebut;
3.  Dimanakah letak kelebihan buku tersebut; pada penyampaiannya, plotnya, bahasanya, gambaran latarnya, penyusunannya, atau isinya;
4.    Sebutkan kelebihan dan kelemahannya. Memberikan kritik berarti memberikan pertimbangan-pertimbangan;
5.  Berikan bukti atas komentar atau pertimbangan dengan mengutip kata atau kalimat yang dibicarakan.
Untuk mempermudah menyusun resensi, petunjuk teknis di bawah ini dapat diikuti:
a.       Bacalah buku secara global, untuk mengetahui sekilas dan secara cepat isi buku yang akan diresensi;
b.      Bacalah buku tersebut untuk kedua kalinya dan mencatat hal-hal yang akan diungkapkan dalam resensi;
c.       Tulislah kesan yang timbul setelah membaca buku. Kesan tersebut dapat dijadikan judul resensi;
d.      Mulailah menulis resensi.
Caranya sebagai berikut:
-          Tulislah judul resensi;
-          Tulislah judul buku yang akan diresensi;
-          Tulislah nama pengarang buku tersebut;
-      Jika buku tersebut merupakan buku terjemahan, tulislah judul dan pengarang aslinya, serta penerjemahnya;
-          Tulislah tebal buku/jumlah halaman;
-          Tulislah tubuh resensi;
-          Sebutkan jenis buku yang diresensi;
-          Sebutkan pokok persoalan dalam buku tersebut;
-          Tulislah alur ceritanya;
-          Tulislah kesan atau ulasan alur tersebut.

e.      Tinjauan Fiksi
Ini adalah cara meresensi yang biasa digunakan dalam buku-buku fiksi. Selain harus menguasai isi buku, peresensi juga harus mencari perimbangan antara jalan cerita (plot, sinopsis) dan tema cerita. Kadang dipaparkan juga tentang proses kreatif pembuatan karya oleh penulis buku itu sementara isi buku sendiri hanya dipaparkan sekilas saja. Perbedaan antara resensi buku dan resensi film terletak pada latar belakangnya saja. Jika pada resensi buku jumlah halaman/tebal buku, isi buku, dan tempat terbitnya, maka pada resensi film terdapat berapa lama film tersebut (durasi waktunya), dan harga dari film tersebut. Dari segi isi, antara resensi film dan resensi tidak ada perbedaan.
  
2.3 Dasar-dasar Resensi
            Dasar-dasar resensi juga perlu diketahui agar peresensi dapat meresensi sebuah karya dengan benar. Berikut dasar-dasar resensi :
a.       Peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu.
b.      Peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat.
c.  Peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya, misal selera, tingkat pendidikan, dari kalangan macam apa asalnya, dan sebagainya.
d.  Peresensi memahami karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. Setiap media cetak mempunyai identitas, termasuk dalam visi dan misi. Dengan demikian, kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam apa yang disukai oleh redaksi. Kesukaan redaksi dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya. Misalnya, majalah sastra tidak menampilkan resensi buku tentang teknik. Jenis buku yang dimuat pasti buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi.

Kegiatan meresensi buku pada hakikatnya melakukan penilaian terhadap buku. Menilai berarti mengulas, mempertimbangkan, mengkritik, dan menunjukkan kelebihan-kelebihan serta kekurangan-kekurangan buku dengan penuh tanggung jawab. Dengan penuh tanggung jawab artinya mengajukan dasar-dasar atau argumen terhadap pendapatnya, dan kriteria-kriteria yang dipergunakan untuk membentuk pendapatnya itu, serta data yang meyakinkan (dengan menyajikan kutipan-kutipan yang tepat dan relevan). Akan tetapi, sasaran penilaian (organisasi, isi, bahasa, dan teknik) itu sering sulit diterapkan secara mekanis. Suatu unsur, sering lebih mendapat tekanan daripada unsur yang lain. Hal yang patut diperhatikan sebaiknya tidak menggunakan salah satu unsur untuk menilai keseluruhan buku. Nilai buku akan lebih jelas apabila dibandingkan dengan karya-karya sejenis, baik yang ditulis oleh pengarang itu sendiri maupun yang ditulis oleh pengarang lain. Bahasa resensi biasanya singkat-padat, tegas, dan tandas. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuatnya dan karakter pembaca yang akan menjadi sasarannya. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. Misalnya, tulisan yang runtut kalimatnya, ejaannya benar, dan tidak panjang lebar (bertele-tele). Di samping itu, penyajian tulisan resensi bersifat padat, singkat, mudah ditangkap, menarik, dan enak dibaca baik itu oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. Kita perlu membiasakan diri membaca resensi itu dengan menempatkan diri sebagai redaktur atau pembaca. Untuk itu, jadikanlah diri kita seolah-olah redaktur atau pembaca. Dengan cara ini, emosi sebagai penulis bisa ditanggalkan. Kita akan mampu melihat kekuatan dan kelemahan resensi kita.
Selanjutnya, untuk peresensi sendiri memiliki syarat tertentu yaitu peresensi sebaiknya memiliki bekal pengetahuan yang memadai untuk memahami isi yang akan diresensi. Peresensi yang sama sekali tidak tahu sastra dan tidak pernah membaca buku-buku sastra, tentu akan sulit jika diminta meresensi novel-novel sastra. Ada satu penerbitan di Amerika Serikat, yang isi sepenuhnya ialah resensi-resensi buku. Yang hebat, para penulis resensi itu bukan orang sembarangan, tetapi para ahli dan pakar (beberapa di antaranya para pemenang Hadiah Nobel). Buku yang diresensi pun yaitu karya terpilih, juga karangan orang-orang hebat. Dengan membaca resensi semacam itu, yang ditulis oleh mereka yang sangat menguasai bidang keahliannya, pembaca mendapat tambahan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Menurut Daniel Samad, peresensi buku sastra harus dapat menyampaikan dua lapis penilaian atau pertimbangan, yakni nilai literer dan manfaat untuk hidup. Nilai literer terungkap dari kegiatannya yang disebut apresiasi sastra dan manfaat untuk hidup terungkap dari apresiasinya atas kebutuhan masyarakat.peresensi dapat menyoroti salah satu dari bahan resensi yang ditinjau dari segi bahasa yakni biasanya bernas (singkat-padat), dan tegas. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuat dan karakter pembaca yang akan menjadi sasarannya.
v  Kelebihan Resensi
a.       Tidak basi. Jika dibandingkan dengan tulisan lain, seperti berita, artikel, dan karangan khas (features), resensi lebih tahan lama. Artinya, andaipun resensi dikembalikan oleh redaksi, resensi itu masih bisa dikirim ke media lain. Demikian pula buku yang diresensi, tidak harus buku yang baru terbit. Kita boleh meresensi buku yang terbit setahun lalu, asalkan buku itu belum pernah dimuat di media yang akan dituju. Meskipun demikian, pada umumnya buku yang diresensi yaitu buku-buku yang baru terbit.
b.      Menambah wawasan. Informasi dari buku sangat berguna untuk menambah wawasan berpikir dan mengasah daya kritis. Kita juga bisa menilai apakah buku itu bermutu atau tidak.


2.4 Pola Tulisan Resensi
Ada tiga pola tulisan resensi buku, yaitu :
a.       Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya menyajikan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam surat uraian singkat.
b.      Menjabarkan (deskripsi) berarti mengungkapkan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dibuat. Jika perlu, bagian-bagian yang mendukung uraian-uraian itu dikutip.
c.       Mengulas berarti menyajikan uraian sebagai berikut:
·         Isi pernyataan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diinterpretasikan;
·         Organisasi atau kerangka buku;
·         Bahasa;
·         Kesalahan cetak;
·     Membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis, baik karya pengarang sendiri maupun karya pengarang lain;
·    Menilai, mencakup kesan peresensi terhadap buku, terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku.
Urutan pola meringkas, menjabarkan, dan mengulas itu dapat pula dipertukarkan. Kita bisa langsung mengulas, menjabarkan, dan meringkas. Misalnya, kita mulai dari kesan terhadap buku, membandingkan, lalu masuk ke bagian meringkas. Sesudah itu, kita memadatkan persoalan utama atau bagian terpenting dalam uraian yang singkat dan jelas. Kemudian, kita perlu menjabarkan bagian-bagian terpenting dari sinopsis. Kita pun dapat memulai dari menjabarkan, meringkas, dan mengulas. Namun, satu hal terpenting, isi pernyataan dalam buku tersebut harus dipahami terlebih dahulu. Dari pemahaman itu, kita akan mengetahui pola mana yang tepat untuk menyajikannya. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat ingin meresensi sebuah karya, yaitu tingkat keahlian atau kepakaran penulis atau pengarangnya, pengalaman dan cara pandang penulisnya, analisis didalam penyajian materinya,  analisis keteknisan penyajiannya, analisis kebahasaannya, ketajaman dan kekuatan topik serta pembahasannya, kekuatan ekspresinya, dan kekuatan intelektualnya. Tujuan pokoknya adalah agar pembaca tertarik untuk membaca secara langsung buku yang sedang diresensi tersebut. Dengan kata lain, sesungguhnya peresensi itu adalah jembatan yang akan menghubungkan sosok penulis atau pengarangnya dengan para pembacanya. Dengan melakukan resensi, peresensi juga dapat menyampaikan masukan pembenahan kepada penulisnya sekaligus pada penerbitnya, khususnya untuk perbaikan pada edisi-edisi yang berikutnya. Resensi yang dibuat dengan baik, objektif, tajam, dan mendalam, pembaca akan terbantu dalam membuat keputusan yang tepat berkaitan dengan karya tersebut. Pembaca akan dapat menentukan secara cepat apakah harus memiliki buku tersebut sesegera mungkin, atau justru harus menundanya, atau bahkan sama sekali tidak perlu membelinya karena pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dibuatnya setelah membaca resensi tersebut. Kemudian hal terakhir yang harus disampaikan oleh peresensi adalah pertimbangan ihwal esensi materi dari buku atau karya yang sedang diresensi tersebut secara objektif, konkret, jelas, dan intelek.
Beberapa hal yang kiranya harus dipertimbangkan dan diperhatikan dalam membuat resensi, yaitu :
-          -Bahasa yang digunakan harus jelas, tegas, tajam, dan akurat.
-          -Pilihan kata yang digunakan harus baik, tepat, dan tidak konotatif.
-          -Format dan isi resensi harus disesuaikan dengan kompetensi, minat, dan motivasi pembaca.
-          -Objektif, seimbang, dan proporsional dalam menyampaikan timbangan terhadap buku atau hasil karya.

Beberapa unsur yang harus dijadikan pertimbangan dalam resensi, antara lain :
-          -Estetika perwajahan karya yang sedang diresensi.
-          -Latar belakang penulisan dan pengalaman penulis.
-          -Tema dan judul dikaitkan dengan minat pembacanya.
-          -Penyajian dan sistematika karya yang sedang diresensi.
-          -Deskripsi teknis buku atau karya yang sedang diresensi.
-          -Jenis buku atau karya yang sedang diresensi.
-          -Keunggulan buku atau karya yang sedang diresensi.
-          -Kelemahan buku atau karya yang sedang diresensi.

2.5 Langkah-langkah meresensi buku
a.    Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang akan diresensi. Mulai dari tema buku yang diresensi, disertai deskripsi isi buku. Siapa yang menerbitkan buku itu, kapan dan dimana diterbitkan, tebal (jumlah bab dan halaman), format hingga harga. Siapa pengarangnya: nama, latar belakang pendidikan, reputasi dan prestasi, buku atau karya apa saja yang ditulis, hingga mengapa ia menulis buku itu.
b.      Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif, cermat, dan teliti. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat.
c.    Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data.
d.      Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan diresensi.
e.       Menentukan sikap dan menilai hal-hal berikut:
     Kerangka penulisan : bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan bagian lain, bagaimana sistematikanya, dan bagaimana dinamikanya.
·   Isi pernyataan : bagaimana bobot ide, analisis, penyajian data, dan kreativitas     pemikirannya.
·         Bahasa : bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan, kalimat dan penggunaan kata, terutama untuk buku ilmiah.
·   Sebelum menilai : alangkah baiknya jika terlebih dahulu dibuat semacam garis besar (outline) resensi itu. Outline ini sangat membantu ketika kita menulis. Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar dan kriteria yang kita tentukan sebelumnya.
2.6 Unsur-unsur resensi
Kita perlu mengetahui unsur-unsur yang membangun resensi buku, yaitu diantaranya :
a.       Membuat judul resensi. Judul yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan, tidak harus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Hal yang perlu diingat, judul resensi selaras dengan keseluruhan isi resensi. Deskripsi, judul buku, nama pengarang (atau penyunting), nama penerbit, tahun terbit, kota tempat penerbitan, jumlah halaman, dan harga buku (boleh dicantumkan atau tidak). Ini disebut heading dan biasanya dicantumkan di awal resensi. Misalnya: Makna Cinta dan Perkawinan di Era Globalisasi, Dian Kencana Dewi, Bandung: Unpad Press, 2005,vii + 237 hlm.
b.      Alinea pembuka. Alinea pembuka atau lead ini bersifat sebagai pemancing agar pembaca mau membaca resensi. Dalam membuat lead, peresensi, misalnya mampu mengaitkan isi buku dengan konteks situasi yang sedang hangat di masyarakat, misalnya: buku bertema tentang korupsi siterbitkan ketika sedang ramai-ramainya pengadilan kasus korupsi. Lead bersama judul berfungsi penting sebagai penarik minat pembaca.
c.     Deskripsi atau rangkuman tentang isi buku. Di sini peresensi merangkum isi atau esensi buku secara ringkas. Tentu saja, pembaca tidak dapat menilai suatu buku jika gambaran ringkas isinya pun ia belum mengetahuinya. Dalam merangkum tentang isi buku, peresensi boleh mengutip satu atau dua kalimat atau alinea yang menarik dari buku untuk memperjelas gambaran isinya.
d.      Menyusun data buku. Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
·         Judul buku (apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan, jika demikian tuliskan juga judul aslinya.
·         Pengarang (kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pad buku).
·         Penerbit.
·         Tahun terbit serta cetakannya (cetakan keberapa).
·         Tebal buku.
e.       Komentar, evaluasi, dan penilaian. Inilah esensi dari suatu resensi, yakni si peresensi mengomentari dan menilai suatu buku dari berbagai aspek: aspek luar dan isi. Karena keterbatasan ruang di media cetak, tentu tidak perlu seluruh aspek tersebut dibahas secara rinci. Peresensi boleh memilih aspek-aspek mana yang menurutnya paling penting untuk diulas dan disampaikan kepada pembaca.
f.       Kalimat penutup dan rekomendasi. Dalam kalimat penutup ini, peresensi kadang-kadang secara tegas merekomendasikan bahwa buku bersangkutan memang layak atau tidak layak dibaca. Kadang-kadang, rekomendasi tegas semacam itu tidak diungkapkan, karena pembaca dianggap telah dapat menyimpulkan sendiri berdasarkan ulasan panjang sebelumnya.
g.      Identitas peresensi juga dicantumkan di bagian akhir resensi. Manfaatnya yaitu untuk menunjukkan kredibilitas peresensi dalam meresensi buku bertema tertentu.
Misalnya di akhir sebuah resensi tentang buku kehumasan, identitas peresensi disebutkan: Dian Eka Puspita Sari, Staf Humas Trans TV. Artinya, peresensi ingin menunjukkan bahwa ia merupakan praktisi Humas dan karena itu memiliki cukup kemampuan untuk meresensi buku bertema Kehumasan.

BAB III
PENUTUP
2.4  Kesimpulan
            Dalam meresensi sebuah karya tulisn pasti menilai kekurangannya atau kelebihannya, dengan tujuan pembaca dapat merangsang hasil karya tersebut. Untuk meresensi sebuah karya tulis perlu adanya langkah-langkah dan dasar untuk meresensi sebuah buku, yang mana semua itu saling memahami sepenuhnya tentang isi buku yang akan diresensi. Dalam meresensi juga terdapat penggunaan bahasa yang singkat, padat dan jelas. Terdapat juga pokok-pokok yang menjadi sasaran dalam meresensi buku yang mana salah satu dari sasaran itu adalah mengulang tentang keunggulan dan kelemahan buku. Membuat judul semenarik mungkin dan betul-betul mencerminkan isi buku termasuk hal-hal penting dalam sebuah resensi termasuk juga mencantumkan identitas sebuah buku yang menutup biasanya dengan memberikan saran atau sasaran sebuah buku yang diresensi.

2.5  Saran
                  Untuk merensensi sebuah karya, sebaiknya pelajari dan ketahui dengan benar langkah-langkah meresensi dengan baik dan benar agar mendapatkan hasil resensi yang objektif dan pembaca dapat point-point yang tepat mengenai kekurangan dan kelebihan sebuah karya tersebut.






Daftar Pustaka
Achnad H.P, Alek, 2010. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Rahardi, R Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga.












Jumat, 27 Desember 2013

Tsunami dan Aceh

Kemarin tanggal 26 Desember adalah tanggal dan bulan yang akan selalu diingat dan dikenang oleh seluruh masyarakat Aceh. Karena pada tanggal dan bulan itu, kami merasakan duka yang begitu mendalam, walaupun tahun demi tahun berlalu tapi rasa kehilangan tetap ada, rasa ketakutan akan bencana yang sama tak lekang dalam ingatan. Kemarin setiap mesjid-mesjid dibanjiri oleh masyarakat Aceh dari berbagai daerah untuk melakukan zikir bersama, mengirim doa untuk para syuhada korban tsunami yang telah mendahului 9 tahun silam. Dan momen ini akan terus terjadi setiap tanggal 26 Desember. Tak terasa sudah 9 tahun tsunami berlalu, dulu aku masih kelas 1 SMP, aku ingat pagi itu saat gempa terjadi aku sedang menonton film doraemon. Saat merasakan gempa, aku mengira kakakku menjahiliku dengan menggoyang-goyangkan kursinya. Aku celingukan ke sana kemari tapi tak ku temukan siapapun. Dari arah dapur Mamak datang dan mengajakku lari keluar rumah. Saat itu aku begitu ketakutan karena belum pernah sekalipun aku merasakan gempa sekuat itu. Aku mengira hari itu kiamat, apalagi beberapa jam kemudian aku melihat mayat-mayat bergelimpangan. Awalnya kami mengira ada banjir bandang, karena katanya airnya merembes di jalan raya dan semakin lama semakin deras. Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata bukan banjir tetapi gelombang tsunami yang maha dahsyat. Walaupun rumahku tidak terkena gelombang tsunami tapi kampung nenekku di Lhokruet, Sampoiniet, habis digulung tsunami, hanya menyisakan sisa-sisa bangunan tanpa atap dan tembok lagi. Saat tsunami terjadi, nenekku berada di rumah bundaku (adik bapak) di Calang, Aceh Jaya. Dan beliau meninggal, tanpa ditemukan mayatnya, begitu juga dengan bunda, oom, dan beberapa sepupuku. Ibu dan 4 orang adik bapak meninggal saat tsunami terjadi dan tidak ada satupun mayatnya yang ditemukan. Saat itu aku melihat bapak begitu berduka dan stress. Makanya sekarang kalau lebaran tiba, aku iri melihat teman-temanku bisa pulang ke kampung orangtuanya, sedangkan aku lebaran hanya bisa di rumah. Kalaupun kita pulang ke Sampoiniet hanya untuk ziarah ke kuburan kakek, dan singgah ke kebun bapak, duduk-duduk sebentar lalu kembali lagi ke Banda Aceh. Makanya kadang-kadang kalau diajak pulang ke sana aku agak malas karena harus pulang-pergi dalam satu hari.
Tsunami membawa banyak duka dan juga suka. Duka karena kehilangan banyak saudara, sahabat, teman, dan kerabat. Tapi sukanya adalah karena tsunami tidak ada lagi konflik senjata di Aceh. Aku tinggal di Banda Aceh, tapi di sekelilingku adalah Aceh Besar, ya aku tinggal di Kopelma Darussalam. Di komplekku ini terbilang aman saat konflik. Tidak ada tentara maupun GAM yang mengganggu atau datang ke rumah kami. Tapi karena kami tinggal di kelilingi Aceh Besar maka tak jarang kami mendengar kontak senjata di malam hari. Terkadang lagi enak-enak tidur, suara kontak senjata terdengar. Mamak langsung membangunkan aku dan menyuruhku untuk tiarap. Mataku seketika terbuka lebar dan langsung tiarap di lantai, jantungku dag dig dug ketakutan. Walaupun tidak pernah diganggu tapi mendengar suara kontak senjata selalu membuatku ketakutan. Apalagi dulu kita tidak pernah bisa menikmati suasana malam dengan nyaman, nggak bisa seperti sekarang dengan bebas keluar malam atau jalan-jalan malam bersama keluarga. Semua lebih memilih diam di rumah. Seperti terpenjara di kota kita sendiri. Dulu juga kalau mau ikutan lomba di majalah susah banget menangnya karena tinggal di Aceh, Band ibukota juga jarang banget mau datang ke sini. Banyak deh suka dukanya saat konflik terjadi. Walaupun aku nggak pernah tahu bahwa konflik RI dan GAM ternyata sudah terjadi selama 32 tahun. Karena aku tinggal di Banda Aceh, aku tidak pernah melihat bagaimana peristiwa konflik yang memakan korban jiwa, aku hanya mendengar kontak senjata sesekali dan demontrasi yang dilakukan mahasiswa, selebihnya bisa dibilang aman. Makanya saat perdamaian MOU Helsinki terjadi, baru saat itulah aku sadar bahwa ternyata konflik di Aceh sudah terjadi selama 32 tahun. Aku tidak pernah mengira bisa selama itu. Kemudian lagi, sukanya itu pembangunan di Aceh semakin banyak karena banyaknya bantuan-bantuan yang datang. Walaupun sedihnya juga ada. Setelah tsunami bukannya maksiat berkurang tetapi malah semakin banyak terjadi. Kadang kalau aku baca berita aku jadi malu sendiri. Aceh yang katanya kota syariat, serambi mekkah, tetapi sikap dan perilaku masyarakatnya masih banyak yang menyimpang. Salah satunya yang membuatku miris adalah masih banyak orang yang berlalu lalang saat azan magrib tiba. Saat salat jumat pun banyak warung kopi yang masih beroperasi, pintunya saja yang ditutup padahal di dalamnya masih banyak pengunjungnya, terutama laki-laki. Dan masih banyak sebenarnya perbuatan maksiat lainnya jika mau lebih peka dan membuka mata. Memang persoalan moral dan akidah susah sekali untuk dikontrol karena itu semua kembali pada setiap individu. Pemerintah boleh mewacanakan program apapun tapi jika dalam diri individunya tidak mau maka sangat sulit untuk dipaksa. Satu harapan yiatu agar kita bisa menjadi individu yang lebih baik, belajar dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain, semoga tercipta kedamaian dan kesejahteraan di Bumi Aceh dan semoga para syuhada korban tsunami bisa mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, diterima amal ibadahnya, dan dihapuskan segala dosanya.

Minggu, 22 Desember 2013

Hari Ibu

Selamat hari ibu untuk seluruh ibu-ibu hebat di dunia. Khususnya untuk ibuku tersayang, Hj.Rosni S.Sos :)
Mamak adalah ibu terhebat sekaligus malaikat pelindung yang telah dikirim Tuhan untukku. Aku bahagia terlahir dari seorang ibu seperti beliau. Mamak yang sangat protect terhadap kami anak-anaknya. Terutama over-protect kepadaku karena aku anak bungsu dan kata mamak, aku anaknya penakut. Kebiasaan yang selalu mamak tanyakan padaku setiap mau mandi atau pergi adalah "mau kemana?" Itu pertanyaan wajib yang tidak pernah lupa beliau tanyakan. Sampai aku hafal dengan kalimat itu. Saking seringnya, aku hanya menjawab dengan simpel "Adek mau pacaran, Mak". Lalu aku nyengir dan ngeloyor pergi. Mamak juga ibu yang paling disiplin sama anak-anaknya. Dulu waktu kita masih sekolah, beliau paling nggak suka kalau kita malas ke sekolah apalagi sampai berpura-pura sakit. Beliau selalu tahu jurus-jurus "sakit pura-pura" yang aku lakukan. Dulu juga aku suka lupa sarapan pagi, alasan aku karena takut telat ke sekolah. Tapi beliau selalu punya cara supaya aku mau sarapan, yaitu dengan menyuapiku. Kalau sudah begitu, aku tidak punya alasan lagi menolak. Aku ingat saat aku diterima di SMA Labschool, mamak begitu senang, karena masuk ke situ juga atas paksaan beliau. Demi menuruti keinginan beliau aku belajar supaya bisa lulus tes masuknya. Bahkan aku rela harus sekolah dari pagi sampai sore. Padahal aku punya kebiasaan dari kecil yaitu "tidur siang". Jadi kalau sudah siang, mulai deh mulut nguap-nguap dan mata sayu-sayu. Makanya kalau pelajaran sekolahnya yang di pukul 2 siang, aku paling nggak semangat belajar, dalam hati terus aku lafalkan "ayooo dong bel keluarnya bunyi, ayo dooong".
Saat aku mengalami masa-masa paling down beberapa tahun lalu, mamak selalu mencoba menghiburku. Setiap malam, mamak akan mengajakku pergi dan keliling kota Banda Aceh, dan aku hanya duduk di dalam mobil sambil melihat keluar jendela dengan pandangan hampa. Dan setiap minggu mamak akan mengajakku ke laut karena mamak tahu aku paling suka ke pantai dan menikmati suara ombak dan suasana laut. Mamak bilang supaya aku tidak stress karena terus mengurung diri di kamar.
Happy mother's day, mom. Terima kasih untuk semua kebaikan dan kasih sayangnya. Satu impian aku adalah aku bisa lulus S1 komunikasi dengan predikat cumlaude. Supaya saat hari aku di wisuda nanti mamak bisa duduk di bangku VIP dan menemaniku menerima bungong jaroe dari rektor.
Hal ini bermula saat setahun lalu aku menemani mamak menghadiri acara wisuda kakakku satu-satunya. Alhamdulillah dia lulus sarjana hukum dengan predikat cumlaude. Hari itu aku pergi dengan mamak. Mamak duduk di barisan paling depan karena mendapat undangan sebagai tamu VIP sedangkan aku duduk di tribun bersama para orangtua wisudawan lainnya. Hari itu aku melihat mamak dipanggil ke depan untuk menemani kakakku menerima bungong jaroe dari rektor. Dari tribun aku melihat kejadian itu dengan haru dan meneteskan airmata, aku berkata dalam hati "Beberapa tahun lagi, aku juga akan berdiri di situ ditemani mamak di sebelahku dan menerima bungong jaroe dari rektor". Mulai hari itu aku berusaha belajar dan mendapat nilai-nilai yang baik agar terwujud mimpi aku itu. Memang benar, nilai bukan segalanya, bukan juga penentu kita nantinya sukses atau tidak. Tapi nilai itu aku hadiahkan untuk kedua orangtuaku agar mereka bangga dan merasa bahwa mereka telah berhasil mendidikku hingga menjadi seperti itu. Aku ingin melihat mereka bahagia dan bangga, aku ingin mereka mengatakan "Mamak sama bapak bangga sama adek" :)
Ya, aku ingin mendengar kalimat itu :)
Selamat hari ibu, mamak. Semoga mamak dan bapak suka dengan hadiah yang kami kasih, love you both, the best I ever had...

Rabu, 11 Desember 2013

Matanajwa "Gara-gara KPK"

 Topik Matanajwa malam ini (11/12/13) yaitu “Gara-gara KPK”. Dalam tayangan iini dipaparkan fakta-fakta apa yang dialami KPK selama ini, bagaimana proses penangkapan tersangka yang begitu berbelit-belit, proses penyadapan, cara penyadapannya (seperti menaruh alat sadap pada uang, alat sadap pada pembantu rumah tangga tersangka). Sampai bagaimana para tersangka yang meggunakan jasa dukun/paranormal. Bahkan pernah dalam satu persidangan, tiga orang jaksa yang dihadirkan KPK tidak bisa berbicara saat proses persidangan tersebut berlangsung. Pada waktu itu, mantan Ketua KPK sampai harus meminta bantuan paranormal juga untuk menanggulangi masalah tersebut. Kemudian ada juga yang menyuruh dukun untuk meyantet mantan Ketua KPK. Bahkan menurut security KPK, ada yang datang ke gedung KPK dan menabur garam di lantainya, konon katanya dengan melakukan hal itu maka tersangka bisa terbebas dari jeratan kasusnya. Banyak kelakuan aneh para tersangka, kelakuan aneh itu juga mereka lakukan saat proses penyidikan, ada yang berbicaranya harus melihat ke samping kanan, atau cara duduknya diatur sesuai perintah “you know lah”, dan banyak hal aneh lainnya. Juga ada petugas KPK yang sengaja ditabrak hingga patah kakinya. Menurut Bambang Widjayanto, selama dia menjabat sebagai Wakil Ketua KPK, praktis aktivitasnya hanya di Kantor dan di rumah. Dia bahkan tidak pernah lagi menghadiri acara-acara sosial seperti kondangan bahkan kondangan ke tempat keluarga dekatnya sendiri. Alasannya, karena dalam acara itu pasti ada acara foto-foto bersama, ditakutkan dengan kecanggihan teknologi sekarang yaitu teknik cropping, takutnya fotonya nanti akan di crop dan dijadikan alat utuk menjerumuskannya. Begitu banyak rintangan menjadi petugas KPK, bahkan nyawa seakan berada diujung tanduk. Identitas para penyidik KPK pun dilindungi, karena harga kepalanya sangat tinggi. Para koruptor sekarang semakin pintar dengan menggunakan sistem operandi yang semakin canggih bahkan memakai jasa akuntan dan tenaga profesional, bekerja cepat utuk menghilangkan barang-barang bukti. Sehingga para penyidik KPK pun bekerja dengan kecepatan waktu, kadang tidak pulang hingga berhari-hari untuk mengumpulkan barang bukti.

Catatan Matanajwa:

1.       Kelangsungan KPK patut disyukuri, berkali-kali digembosi tapi tetap tegak berdiri
2.       Aksi sadapnya mengecutkan nyali, tersangkanya berujung jeruji besi
3.       Anggarannya pernah dipersulit, personilnya dikriminalisasi dan diotak-atik
4.       Semakin keras KPK dikerdilkan, semakin lantang rakyat menyelamatkan
5.       Inilah organisasi yang mengukir wibawa, karena kerja nyata dan bukan citra
6.       Kita perlu terus menjaga, agar KPK tidak dicemari kepentingan peguasa
7.       Bekerja lurus karena bukti, tidak didorong benci atau politik pribadi
8.       KPK selalu bisa tergelicir salah, setiap itu pula rakyat datang memberi arah
9.       Menjadi institusi yang tak boleh kalah, lebih wajib dibela bukan dibuat lemah.

Senin, 09 Desember 2013

Hari Anti Korupsi

Hari ini (katanya) hari anti korupsi sedunia. hmmm, korupsi adalah topik yang paling sering kita dengar di Indonesia saat ini. Setiap menonton tayangan news, selalu ada saja kasus-kasus korupsi baru. Seakan korupsi itu menjadi sesuatu yang dihalalkan atau sesuatu yang sedang menjadi trend sehingga tidak heran semua pejabat melakukannya secara berjamaah. Sulit memang dengan sistem hukum di negara kita yang begitu lemah saat ini untuk menegakkan kasus-kasus itu dengan seadil-adilnya. Karena selama ini faktanya kasus-kasus korupsi yang terungkap kebanyakan hanya ikan-ikan kecil saja, walaupun ada beberapa ikan besarnya. Tapi banyak sekali "ikan-ikan besar" lainnya yang tidak tersentuh hukum. Ya, memang dimanapun tempatnya, yang kaya selalu aman. Untuk mengatasi korupsi memang sulit sekali, tapi mulailah dari diri kita sendiri, terutama para generasi muda. Jika merubah generasi tua begitu sulit maka mulailah untuk merubah yang muda, dengan melakukan "character building". Ayo tanamkan dalam diri kita rasa malu mengambil milik orang lain. Mulai dari sekarang, tumbuhkan rasa malu untuk tidak mengambil "apapun" milik orang lain tanpa seizin orang tersebut. Budayakan rasa malu, tanamkan nilai dan moral yang baik pada generasi muda. Sebenarnya penyebab orang-orang korupsi ada beberapa hal. Pertama, rendahnya moral sehingga tidak ada rasa malu ketika mengambil sesuatu yang bukan hak dan miliknya. Kedua, karena dorongan ekonomi untuk dapat hidup yang lebih baik. Ketiga, dorongan istri dan anak (bagi yang sudah menikah), dorongan-dorongan itu yang menjadi motif awal seseorang melakukan korupsi, karena tuntutan-tuntutan istri dan anak yang berlebihan, minta beli ini dan itu, yang akhirnya membuat seseorang itu melakukan korupsi untuk membahagiakan keluarganya. Banyak juga hal lain sebenarnya. Kita jangan selalu menyalahkan pemerintah ataupun hukum yang begitu lemah, tapi kita sebagai masyarakat juga harus ikut andil dalam membantu pemerintah. Kalau seandainya semua orang berperilaku baik, bermoral, dan tahu malu, maka tidak akan ada para koruptor di muka bumi ini. Selamat hari anti korupsi, semoga semua koruptor di negeri ini mendapat hidayah dan segera bertaubat. Semangat untuk para aparatur yang menjalankan tugasnya menangkap para koruptor supaya lebih jujur dan amanah :)

Minggu, 01 Desember 2013

Resensi dan Kritik Film "Batas"

Minggu kemarin, aku mendapatkan tugas midterm Penulisan Kreatif untuk menonton film Batas dan membuat reportase, resensi, dan kritik tentang film tersebut. Untuk reportasenya sendiri tidak begitu rumit memang, karena dulu sempat magang jadi wartawan. Tapi untuk urusan menulis resensi dan kritik adalah persoalan baru buat aku. dari semua tulisan artikel, hanya opini dan feature yang pernah beberapa kali aku tulis. Sedangkan untuk resensi dan kritik belum pernah sekalipun. Tentunya juga bukan perkara mudah untuk aku pribadi menilai sebuah film. karena setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing. Dan karena bisa tidak bisa tugas harus tetap dibuat, maka inilah dia hasilnya, jreng jreng jreng jreng...

RESENSI FILM BATAS
Judul : Batas
Produser : Marcella Zalianty
Sutradara : Rudi Soedjarwo
Penulis : Slamet Rahardjo
Pemain            : Marcella Zalianty, Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C Noer, Ardina Rasti, Otiq Pakis, Norman Akyuwen, Marcell Domits, Alifyandra, Tetty Liz Indriati.

Antara Keinginan dan Kenyataan


Batas merupakan film yang menceritakan tentang seorang perempuan yang bernama Jaleswari, yang begitu ambisius dan totalitas dalam bekerja. Dia berani ditugaskan ke daerah pelosok Kalimantan yang terisolir dengan kondisi yang sedang hamil. Hal ini juga dilakukan untuk pelariannya melupakan kematian suami yang dicintainya, hingga ia berani mengambil segala resiko yang mungkin akan terjadi selama ia berada dalam daerah penugasan. Misinya yaitu untuk mencari tahu apa yang menjadi kendala sehingga program Corporate Social Responsibillity (CSR) di bidang pendidikan yang dilakukan oleh perusahaan tempatnya bekerja tidak berjalan dengan baik dan maksimal di Borneo, daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan. Semua guru yang telah dikirim ke daerah perbatasan tersebut oleh perusahaannya, kembali lagi ke Jakarta dan hal ini berpengaruh terhadap proyek yang sedang dia jalankan. Hanya Adeus yang bertahan menjadi guru di sana, itupun karena dia adalah pemuda asli daerah itu. Untuk itulah, Jaleswari ditugaskan ke daerah tersebut untuk terjun langsung melihat sendiri apa yang terjadi sehingga program CSR perusahaannya tidak berjalan lancar. Kehidupan di pedalaman Kalimantan yang terisolir sangat jauh berbeda dengan kehidupannya di  Jakarta yang serba modern. Selain itu, masyarakat di sana juga memiliki cara pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Masyarakat Borneo lebih mementingkan anak-anaknya untuk bekerja daripada memperoleh pendidikan. Dengan segala kekurangan yang mereka miliki, mereka dihadapkan oleh sebuah perasaan apakah harus tetap tinggal di daerah kelahiran ataukah melewati batas perbatasan Indonesia-Malaysia untuk merasakan surga yang ditawarkan negara tetangga, ideologi bangsa pun diuji. Apalagi dengan batas teritori yang hanya ditandai dengan plang kecil, tanpa adanya pengawasan atau  monitor dari pemerintah, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk keluar masuk perbatasan. Selama di sana, Jaleswari mengerti bahwa sistem pendidikan yang diinginkan perusahaannya tidak sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.  Dia juga mengalami konflik batin saat berhadapan pada masalah kemanusiaan yang terjadi di daerah itu ataukah hanya terfokus pada misi awalnya yang ditugaskan oleh perusahaan. Persoalannya adalah masyarakat di sana lebih memilih bekerja daripada harus mengenyam pendidikan. Apalagi di sana ada Otik, salah seorang warga Borneo yang menginginkan warga di desa itu tetap bodoh, agar ia bisa dengan leluasa menjual perempuan-perempuan di tempat itu ke negara tetangga. Namun kehadiran Jaleswari yang penuh semangat dan optimistis telah membakar semangat anak-anak di sana, khususnya Borneo, untuk belajar. Tidak hanya itu, ia juga menularkan semangatnya pada Adeus, juga pada Panglima Galiong Bengker (Kepala Suku Dayak) untuk membuat warganya berpendidikan. Film ini juga mengajarkan tentang ideologi, bahwa realitanya banyak masyarakat Indonesia yang hidup di daerah perbatasan,  kemudian tergiur untuk hidup merantau ke negara sebelah yang lebih menjanjikan. Persoalannya adalah seberapa kuatkah kita untuk bertahan antara keinginan dan kenyataan. Selain itu film ini juga menampilkan sebuah daerah di pedalaman Kalimantan yang masih begitu kuat dengan nilai-nilai tradisional dan adat-istiadat yang kental, jauh dari peradaban dan kemajuan, dengan keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya sarana pendidikan. Sebuah gambaran masyarakat dengan kondisi pendidikan yang sangat rendah. Para orangtua terkesan seperti membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa pendidikan, menganggap bahwa bekerja lebih penting daripada belajar, sebuah pemikiran yang sangat berbeda dari masyarakat kota. Tentunya mengubah cara pandang masyarakat yang seperti itu bukanlah hal yang mudah, butuh proses yang tidak sebentar dan tentunya dibutuhkan kesabaran dan pemahaman. Karena untuk bisa memahami orang lain maka harus dipahami dahulu cara berpikir orang tersebut. Padahal banyak anak di sana yang sebenarnya memiliki semangat untuk belajar dan bercita-cita tinggi, seperti Borneo misalnya, yang bercita-cita ingin menjadi presiden. Namun dengan kondisi daerah yang demikian, mereka tidak memiliki pilihan selain melakukan apa yang diharapkan orangtuanya. Terakhir adalah film Batas ini memiliki makna batas yang beragam. Batas berarti sejauh mana batas seorang Jaleswari dalam mengenal lingkungan yang baru ia tinggali dan beradaptasi dengan segala perbedaannya, kemudian juga ada Adeus yang harus berhadapan dengan batas kemampuan dirinya dalam menghadapi masalah yang datang dari Otik, antara ingin memperjuangkan keinginan anak-anak untuk belajar ataukah menyerah pada tekanan-tekanan yang diberikan Otik untuk menghentikan langkahnya tersebut. Batas berarti  masyarakat yang hidup di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Batas berarti hidup dalam keterbatasan pendidikan, sarana-prasarana maupun fasilitas. Batas berarti keterbatasan untuk memilih antara keinginan atau kenyataan.  Dan batas berarti betapa budaya dan adat istiadat menjadi batas dalam menjalani hidup. Secara keseluruhan, batas menggambarkan bagaimana sekelompok orang yang berusaha untuk keluar dari batas kenyamanan diri mereka ketika dihadapkan pada sebuah tantangan maupun permasalahan supaya bisa terselesaikan dengan segera. 


KRITIK

Batas Tak Berarti Terbatas
Jaleswari suatu ketika ditugaskan oleh pimpinan perusahannya untuk menyelidiki penyebab gagalnya kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan mereka di sebuah daerah terpencil di perbatasan Kalimantan.  Dengan durasi tayangan yang hampir mencapai dua jam, Batas mencoba menceritakan mengenai banyak hal. Sejak awal, film ini diceritakan dengan begitu kompleks, dengan berbagai kasus, mulai dari menceritakan sosok Jaleswari dengan semangat dan optimistisnya, kemudian juga ada cerita daerah perbatasan Kalimantan yaitu wilayah Entikong, yang begitu terisolir dengan kualitas pendidikan yang begitu memprihatinkan, kemudian juga pemikiran masyarakat di sana bahwasanya anak-anak lebih baik bekerja daripada belajar. Lalu ada Otik, seorang warga Borneo yang menginginkan warga-warga  di sana agar tetap bodoh dan apatis terhadap pendidikan, supaya memuluskan jalannya untuk bisa memperjualbelikan para wanita di wilayah itu ke negara tetangga.  Juga ada Adeus, satu-satunya guru di Desa itu yang merasa  tertekan dengan ancaman dari Otik yang melarangnya untuk mengajar anak-anak di desa tersebut. Ada masalah Kepala Adat Dayak dan mantan istrinya yang hubungannya sudah tidak rukun lagi sejak kematian anaknya, dan terakhir tentang misteri kejadian yang dialami Ubuh, wanita misterius yang ditemukan warga setempat di Hutan dengan luka traumatiknya yang luar biasa. Film ini menceritakan banyak sisi dan begitu kompleks. Dan untuk menceritakan rangkaian konflik tersebut dengan lancar tentunya bukanlah hal yang mudah. Beberapa kali “Batas” terlihat seperti kehilangan fokus dalam penceritaannya. Dari satu cerita beralih ke cerita yang lain, dan perlahan-lahan setiap misteri dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak penonton yang melihat film ini mulai terbuka dan terjawab. Walaupun saya merasa ada sedikit kebingungan dalam memaknai beberapa adegan dikarenakan ceritanya yang memuat beberapa sudut pandang, sehingga ada beberapa plot yang seakan tidak terselesaikan dengan baik. Walaupun begitu, sutradara film ini, Rudi Soedjarwo, mampu menghadirkan susunan cerita yang kuat dan menarik dengan menampilkan balutan gambar-gambar dengan panorama alam Entikong yang indah, adegan para tokoh yang begitu menjiwai setiap peran yang dimainkannya, mampu membuat penonton terhibur dan hanyut ke dalam alur cerita tersebut. Keunggulan dari film ini adalah walaupun cerita ini bukan berdasarkan kisah nyata, namun konflik yang dimunculkan dalam film ini merupakan fenomena atau realita yang kerap terjadi di wilayah perbatasan Kalimantan. Tentang nilai dan adat istiadatnya, sistem pendidikannnya, daerah yang terisolir dan jauh dari peradaban dan sentuhan kemajuan, serta tentang ideologi bangsa yang sering terkalahkan dengan realita bahwa masyarakat di wilayah perbatasan tersebut ingin hidup lebih baik dengan merantau ke negara tetangga yang lebih mampu menawarkan apa yang tidak mampu ditawarkan negaranya sendiri.