Sabtu, 26 Oktober 2013

Kisah Maman menginspirasiku :)

Dan... Besok kita mulai take gambar, full seharian dari pagi hingga malam, sampai selesai aktivitas narasumber. Jadi film yang mau kita buat ini bercerita tentang perjuangan seorang anak lelaki berusia 15 tahun yang sudah bekerja menjual kantong-kantong plastik sejak masih kecil. Setelah lulus SD, dia tidak bisa lagi melanjutkan sekolah karena tidak adanya biaya. Sejak saat itu, dia mulai bekerja untuk membantu keluarganya. Selain menjadi penjual kantong plastik di pasar ikan, siangnya setelah selesai berjualan, dia pergi menangkap ikan untuk kemudian dijual lagi. Semua pekerjaan dilakukannya untuk mendapatkan uang. Mengapa aku bisa mengenal anak hebat ini? Aku mengetahui cerita tentang anak ini setahun lalu dari mamaku. Mama mengenalnya di pasar ikan saat anak itu menjual kantong plastiknya pada mama. Sejak saat itu, setiap bertemu mama di pasar, dia langsung menarik tangan mama dan meminta supaya mama membeli kantong plastiknya. Dia juga sempat beberapa kali menceritakan kisah hidupnya pada mamaku. Mama penasaran kenapa dia tidak bersekolah dan malah berjualan kantong. Dari situlah mengalir cerita-ceritanya itu. Jadi makanya setiap berjumpa dengan anak itu di pasar, mama pasti selalu membeli kantong plastiknya atau sekedar memberi uang jajan pada anak itu, bukan karena butuh plastik tetapi karena rasa simpati. Di rumah, mama mulai menceritakan tentang anak itu kepada kami, bagaimana semangatnya bekerja, perjuangannnya menjadi tulang punggung keluarga hingga mengorbankan cita-citanya untuk bersekolah. Sebenarnya dia sangat ingin bersekolah lagi, namun dia bilang "pengen sekolah, tapi buat apa kalau setelah dua hari bersekolah lalu tiba-tiba harus berhenti karena nggak ada uang lagi, jadi lebih baik kerja saja jadi uangnya bisa dikasih untuk mamak. Kasian mamak nggak ada uang." Makanya waktu di suruh buat film, aku teringat kembali tentang anak kecil yang mamaku cerita. Aku begitu tergugah mendengar perjuangan dan semangat anak lelaki itu, sampai tak tahan airmata mengalir saat mendengar mama bercerita tentangnya. Jadilah hari kamis kemarin, aku mengajak teman-teman kelompokku untuk mencarinya di pasar ikan, Peunayong. Namun ternyata hari itu dia tidak datang. Tapi kami tak menyerah. Aku dan Zumar pergi mencari rumahnya dengan hanya bermodalkan nama desanya dan informasi bahwa dulu abangnya itu meninggal karena jatuh ke dalam sumur. Bahkan namanya saja aku belum tahu, karena waktu aku menanyakannya pada mama rupanya mama lupa menanyakan nama anak itu. Setelah bertanya ke sana kemari, untungnya ada seorang bapak paruhbaya yang berbaik hati mengantar kami ke rumah neneknya anak itu. Awalnya bapak itu sempat sangsi karena kami tidak tahu siapa nama anak itu. Namun karena kami bilang dulu abangnya ada yang meninggal jatuh ke dalam sumur jadi dia mulai tahu. Setelah dia mengantarkan kami ke rumah nenek anak itu, kami berjumpa dengan pamannya anak itu. Pamannya lah yang kemudian mengantarkan kami ke rumah anak itu. Dari pamannya lah kami tahu bahwa anak itu bernama Maman. Lalu pamannya menunjukkan jalan ke rumah Maman. Lumayan jauh juga jarak antara rumah Maman dengan jalan besar. Jalanan ke rumahnya tidak bagus dan berbatu. Sesampainya di rumah Maman, kami melihat rumahnya hanya sepetak yang terbuat dari kayu. Kondisinya agak memprihatinkan. Namun Maman tidak ada di rumah. Rupanya dia sedang memancing ikan di kolam yang tak jauh dari rumahnya. Sambil menunggu Maman pulang, kamipun berbincang-bincang dengan kedua orangtuanya. Ternyata hari itu Maman memang tidak berjualan kantong di pasar tetapi sedang memancing ikan, hasil tangkapannya nanti akan dijual olehnya untuk mendapatkan uang. Mendengar itu, aku kembali teringat pada cerita mamaku tempo hari saat terakhir kali bertemu Maman di pasar. Mama bertanya mengapa jarang sekali melihat Maman berjualan plastik di pasar. Lalu Maman bilang kalau dia tidak pergi karena tidak ada ongkos naik angkutan umum. Karena tahu sendiri kan biaya hidup di Aceh bisa dibilang lebih mahal dibandingkan daerah-daerah lain. Ongkos angkutan umum dari rumahnya ke pasar aja bisa sampai 7000, pulang pergi jadi 14000. Bayangkan biaya naik angkutan umum aja bisa semahal itu, makanya kadang kalau nggak ada uang untuk naik angkutan umum, dia hanya mendapat uang dari memancing. Nanti kalau sudah ada uang lagi buat ongkos baru pergi lagi berjualan ke pasar. Hari itu, Maman mengajak temannya untuk ikut memancing bersamanya. Dia bilang supaya temannya itu juga bisa punya uang sendiri dan bisa meringankan beban orangtuanya juga. Betapa baik ya hati Maman. Kadang-kadang juga katanya kalau ada ibu-ibu yang tidak mampu meminta ikan hasil tangkapannya akan diberikan secara cuma-cuma. Dia hidup kekurangan tapi masih suka berbagi dengan orang lain. Ironis memang hidup ini. Banyak orang yang bergelimang harta tapi begitu takut memberi pada yang membutuhkan. Tapi Maman yang tak punya apa-apa masih suka memberi dan menolong orang lain. Di sore hari, dia juga selalu pergi mengaji bersama teman-temannya. Jadi walaupun hidup kekurangan tapi Maman tetap dekat dengan Tuhan. Nilai-nilai agama masih tertanam kuat dalam dirinya. Hal yang sangat jarang ditemukan pada orang-orang yang tinggal di kota. Makanya aku semangat banget untuk membuat film tentang Maman ini karena kisah hidupnya yang sangat menginspirasiku. Dan semoga kalau film ini nantinya selesai digarap, juga bisa menginspirasi banyak orang untuk menyukuri dan menerima apa yang telah diberikan Tuhan, baik dan buruknya. Satu kata yang paling aku sukai dan akan aku sisipkan di kata penutup film ini adalah "karena manusia ada, dilihat dari seberapa besar manfaatnya bagi orang lain". Yup, aku suka sekali kalimat itu, karena eksistensi kita sebagai manusia dianggap ada tergantung pada seberapa besar manfaat kita bagi orang lain, makanya sering-seringlah menolong orang lain dan berbuat kebaikan karena dengan begitu kita dianggap ada dan istimewa :)

Rabu, 23 Oktober 2013

Videografi itu Makanan Apa sih???? _-_

Yang paling menyebalkan dari semester tujuh ini adalah ada mata kuliah "videografi". Demi apapun aku nggak suka yang namanya ngambil gambar, take ini take itu, ribeeeeet bet bet.
Semester kemarin yang cuma buat iklan aja capeknya setengah mati, dari pagi buat sampai sore nggak siap-siap, parahnya lagi dosennya minta kita yang jadi modelnya. Di suruh ngomong, akting depan kamera, asli bego, kapok sekapok-kapoknya. Memang dibalik layar itu lebih enak. Dan semester ini dapat lagi mata kuliah "videografi". Dari namanya aja udah bau-bau disuruh buat film, dan tebakan Anda benar sekali. Kenapa saya nggak suka buat film? Pertama, saya bukan orang yang kreatif terutama soal "ide". Kedua, saya nggak paham soal teknik pengambilan gambar, walaupun semester kemarin udah ngambil mata kuliah fotografi tetap aja nggak ngerti soal ISO, diafragma, speed. Kalo soal teorinya doang sih ngerti, tapi yang Anda harus tahu adalah teori dan praktek itu jauuuuuuuuuuh banget bedanya. Anda boleh jadi pintar banget teori tapi belum tentu dalam prakteknya Anda bisa sepintar di teori. Pengalaman ini aku rasain banget waktu belajar jurnalis di Muharram Journalism College (MJC) setahun yang lalu. Karena aku suka nulis jadi aku memilih mengambil kelas cetak dibanding televisi, karena kayak aku bilang tadi kalau aku agak gaptek kalau berhubungan sama kamera. Waktu belajar teorinya enak banget, seru rasanya jadi tahu banyak tentang dunia jurnalis. Tapi begitu mulai magang jadi wartawan dan ditempatin di media mulai deh kebingungan. Kebetulan aku ditempatin di media cetak Analisa. Teman-teman yang lain semuanya ditempatin di media online, kadang suka ngiri liat mereka mudah banget dinaikin beritanya. Lah, aku telat ngirim dikit aja sudah lewat nggak bisa dimuat lagi. Dan selama 2 minggu aku magang di situ, cuma 11 kali aku mengirim berita dan cuma 5 berita yang dimuat. Dapatin berita segitu rasanya perjuangan banget. Pertama, aku bukan orang yang suka ngukur jalan (jalan-jalan nggak jelas). Kedua, aku nggak punya insting wartawan yang kalau liat sesuatu langsung deh dijadiin berita. Ketiga, aku nggak dikasih ngeliput berita-berita ceremonial atau berita yang sedang diliput oleh wartawan lainnya, bingung nggak tuh? Jadilah selama magang, aku mikirin masalah apa kira-kira yang bisa aku angkat ke publik. Dan rata-rata yang dimuat soal "masalah ekonomi masyarakat kecil".
Makanya aku bilang antara teori dan praktek itu sangat jauh berbeda. Pintar teori belum tentu akan pintar juga dalam prakteknya, begitu juga sebaliknya. Dan besok rencananya kita mulai ngambil gambar tapi masalahnya anak cowoknya pada mau main futsal jadilah kami (anak-anak cewek) yang harus ngambil gambar. Apa yang harus kami lakukan dengan kamera dan tripod besok? I dont know, we will see :(

Sabtu, 14 September 2013

Virus Gadget dari Orang Dewasa hingga Anak-anak

Gadget tidak hanya akrab di kalangan remaja maupun mahasiswa tetapi anak-anak pun tidak kalah. Jika seseorang sudah kecanduan gadget bisa dipastikan intensitasnya di dunia nyata menjadi berkurang. Coba kalian perhatikan saat kalian sedang berkumpul bersama teman-teman, pasti semuanya sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Ada yang sibuk dengan handphone smartphone nya, tablet maupun iPad. Walaupun jarak dekat tapi terasa jauh, ya karena semua sibuk dengan gadgetnya sendiri. Orang-orang dibuat lebih acuh terhadap lingkungan sekitar. Dan itu semua karena gadget dirancang untuk membuat para penggunanya lalai dan kecanduan. Beragam aplikasi dihadirkan di dalamnya untuk membuai para pengguna. Mulai dari aplikasi-aplikasi jejaring sosial seperti twitter, facebook, instagram, line, wechat, path, dan banyak lainnya. Juga ada banyak game yang bisa di download sepuasnya di play store (android) dan App store (apple). Belum lagi kecanggihan-kecanggihan lainnya yang ditawarkan. Ternyata tidak hanya remaja dan orang dewasa yang tersihir, anak-anak kecilpun ikut terbuai akan kecanggihannya. Kalau jaman dulu waktu aku kecil, anak-anaknya sibuk main sepeda, samberlang, kodok, krim, congklak, kelereng, dan banyak permainan tradisionalnya, lha anak sekarang udah nggak mempan main yang begituan lagi. Sekarang anak-anak justru sibuk main game di gadget-gadget canggih. Contoh nyatanya nih sepupu cilik aku, dia baru TK, tapi tiap ketemu aku pasti yang dia minta selalu iPad. Dan kalau udah main game di iPad, dia lupa segalanya. Main seharian, bahkan kalau kita minta iPad nya nggak bakal dikasih, sampai dia harus mengeluarkan jurus pamungkasnya dengan menangis. Kalau udah begitu kan jadi kasian. Dan walaupun masih TK, dia ngerti cara menggunakan gadget tersebut dengan baik. Bahkan lebih jago dia main game dibandingkan aku. Luar biasa ya anak jaman sekarang. Pernah juga kakak aku pergi mengantar kue ke rumah teman mama. Di depan pintu rumah itu, dia melihat seorang anak kecil duduk di depan rumah sambil bermain game di gadget. Kakak memanggil-manggil dia, tapi dia tetap sibuk dengan gadgetnya sendiri. Ada sekitar 10 menit si kakak bengong di luar hahahaaa :D begitulah ya dahsyatnya pengaruh gadget terhadap para penggunanya. Semua yang memakainya dibuat sibuk sampai-sampai mengurangi intensitas waktunya berinteraksi di dunia nyata.

Jumat, 23 Agustus 2013

Rindu menulis...

Sudah 2 bulan aku tidak memenuhi blog ini dengan postingan yang baru dan tiba-tiba saja saat ini aku begitu rindu untuk menorehkan kata-kata di sini. Rindu sekali, hingga rasanya begitu sulit untuk bernafas. Karena menulis bagiku adalah sebuah kebutuhan, menyalurkan segala unek-unek yang tersimpan di kepala yang tak bisa aku ungkap secara lisan. Dan jika pikiran-pikiran itu tidak aku tumpahkan di sini maka ia akan membusuk dan menghancurkan otakku. Dan di sinilah aku sekarang. Duduk di atas tempat tidur yang nyaman dan mengetik-ngetikkan jariku di layar iPad. Yup, sudah dua bulan iPad ini menemaniku dan rasanya sangat membantu. Karena dengannya aku tak pernah merasa bosan, justru semenjak ada dia, aku jadi lalai dan malas. Yang dulunya nggak begitu suka main game, sekarang malah seperti kecanduan. Dan berkat gadget inilah aku jadi lupa membuka blog dan memposting tulisan-tulisanku lagi. Memang benar ya, gadget membuat kita ketergantungan, malas, dan beragam efek negatif lainnya. Tapi gadget jugalah yang membantu kita dalam banyak hal, terutama dalam mengakses internet. Dan selama ada gadget ini di sisiku, aku bisa tahu apa yang sedang terjadi di luar sana tanpa perlu keluar rumah. Memang segala hal itu selalu memiliki dua sisi, positif dan negatif. Tergantung kita mau menggunakan sisi yang mana :)
Setelah aku memakai iPad, aku menemukan bahwa aplikasi-aplikasi yang ada di samsung (play store) dan apple (app store) begitu mirip. Misalnya game dan banyak aplikasi lain. Bisa dibilang, buat kamu yang sudah memakai android, nggak akan ribet dalam memakai iPad. Ini yang membuat aku heran saat pertama kali menggunakan gadget yang satu ini. Tapi wajar aja kan kalau mirip, karena apple dulunya pernah menjalin kerja sama dengan samsung. Semenjak menjalin kerjasama itu, bisa dilihat kan Samsung yang dulunya nggak begitu populer langsung melejit bahkan sekarang sudah mulai menyaingi apple. Tapi yang menarik dari apple, bisa dibilang keunggulannya yang membuat brand ini begitu dicintai oleh konsumennya adalah karena apple punya kelas. Selain itu gadget merk Apple nggak mudah masuk virus. Makanya nggak heran kalau Macbook apple nggak butuh aplikasi anti-virus, sangat berbeda kan dengan merk lainnya yang sangat mudah kemasukan virus. Nah ini juga yang membuat aku tenang saat menggunakan iPad, karena nggak mudah masuk virus. Makanya iPad dan merk apple lainnya nggak open source. Sehingga agak sulit mengirim data ke gadget yang lain yang berbeda merk. Dan ini yang suka bikin aku kesal, karena tiap mau ngirim foto dari iPad ke handphone temanku via bluetooth nggak pernah bisa. Jadi terpaksa ngirimnya via email atau pakai kabel data bawaan iPad. Ribet ya???
Ini juga yang sempat di olok-olok oleh samsung dalam salah satu iklan mereka. Mereka membandingkan gadget mereka yang begitu mudah mengirim data dengan gadget lain (apple) yang nggak bisa ngirim data ke gadget lain yang merk nya beda.
So, mau yang ribet tapi aman atau gampang tapi kemungkinan kemasukan virus lebih besar?
Hmmmmmm enaknya sih pakai dua-duanya yaa, jadi bisa mendapatkan keuntungan dari kedua-dua merk tersebut. Oke deh, cukup itu dulu untuk malam ini karena jam di rumahku sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi alias tengah malam. See you dear, have a nice day :)

Rabu, 26 Juni 2013

Kurangi Menonton Televisi

Beberapa hari ini lagi hobi baca buku, tepatnya jenis novel roman. Tau sendiri kan kalau novel-novel luar negeri itu romantis abis J Bayangin ya, dalam satu hari aku bisa melahap satu novel. Kalau aja baca buku kuliah juga secepat itu pasti tiap semester aku bisa dapat IP 4 hahahaahaaa :D
Memang dari dulu aku suka membaca. Tapi entah kenapa beberapa bulan ke belakang jadi agak malas. Buku “Chairul Tanjung si Anak Singkong” yang Mama beli bulan 1 lalu, sampai sekarang belum aku sentuh. Padahal dulu aku sempat mencari buku itu di toko-toko buku tapi belum keluar. Dan tiba-tiba aja waktu itu, pas aku pulang dari rumah teman, si Mama memberikan buku itu. Senangnya bukan kepalang. Tapi baru aku baca beberapa halaman. Dan ini semua gara-gara koleksi film yang semakin numpuk di laptop dan menunggu untuk ditonton. Tapi lucunya, beberapa hari ini aku malah keranjingan baca buku dan sebentar lagi sepertinya buku “Chairul Tanjung si Anak Singkong” juga akan aku baca sampai halaman terakhir J
Tapi ya, walaupun aku suka menonton, entah kenapa sekarang ini aku malaaaaaaas sekali menonton sebuah kotak ajaib bernama “TELEVISI”. Kenapa? Karena program-program sekarang kebanyakan membosankan dan datar, hampir sebagian besarnya mirip antara satu dan yang lain. Belum lagi porsi iklan dalam setiap program-program acaranya. Kadang saking bosannya ngeliat iklan, sampai aku hitungin itu iklan berapa buah di setiap jeda program acaranya. Bukan berarti aku nggak suka melihat iklan, tapi kadang porsi iklan yang terlalu besar membuat aku jenuh dan bosan. Pada dasarnya kan kita menghidupkan televisi karena ingin mendapatkan informasi dan hiburan. Tapi ketika porsi informasi/hiburan dan iklannya sebanding, hal itu tentu aja membuat kita bosan dan akhirnya apa? Tentu saja berpindah channel TV. Dan ketika aku berpindah channel TV, aku selalu lupa untuk kembali ke channel sebelumnya x_x
Dari semua channel TV, yang paling sering aku tonton adalah MNC music (suka lihat video-videonya), Metro TV (suka sama informasinya yang selalu aktual, ada program favorit aku kayak Kick Andy, Mata Najwa, Stand Up Comedy, Mario Teguh), Diva Universal (koleksi film baratnya seru, juga ada yang drama series nya), FoxCrime (program-program tv nya di sini keren-keren), National Geographic juga oke-oke informasinya terutama mengungkap fakta-fakta yang nggak pernah kita tahu, KBS (banyak koleksi film-film korea terbaru), SCTV (itu program FTV nya jadi favorit aku). Tapi bisa dibilang aku sangat jarang menghidupkan televisi. Kalau di rumah, aku lebih suka di kamar dengan koleksi film-film yang aku punya, baca buku, atau menjelajah dunia maya. Sekarang aku bahkan nggak tahu apa program TV favorit orang-orang. Seperti X-factor, indonesian idol, atau master chef yang sering disebut orang-orang di twitter misalnya. Aku bahkan nggak pernah mengikuti tayangan-tayangan itu. Entah kenapa sejak masuk jurusan komunikasi dan tahu bagaimana pengaruh dan dampak media televisi terhadap masyarakat, sejak saat itu aku mulai membatasi diri untuk tidak terlalu sering menonton televisi. Dan sejak Kak Mena pulang dari Surabaya, dia juga jadi tidak terlalu sering menonton. Dia lebih sering belajar speaking di youtube, atau belajar listening di laptop. Jadi bisa di bilang di rumah yang menonton hanya Mama, itupun hanya pada malam hari. Kalau Bapak paling nonton kalau pas ada tayangan bola, atau berita aja.  

Bukan berarti televisi itu nggak bagus loh, tapi jangan terlalu sering dilihat, karena bisa membuat kita terpedaya. Karena nggak semua yang diperlihatkan media itu benar-benar adanya. Terutama tayangan-tayangan seperti sinetron. Buat aku sinetron itu sangat tidak mendidik. Peran-peran tokohnya dibuat sejahat mungkin, sampai kadang kita yang menonton jadi ikut kesal pada pemeran antagonisnya. Aku ingat dulu waktu aku kecil ada satu sinetron laga yang memperlihatkan adegan bunuh-bunuhan gitu. Dan gara-gara menonton sinetron itu, aku jadi nggak bisa tidur dan merasa banyak orang jahat di sekeliling aku. Dan itu benar-benar menakutkan. Sampai akhirnya aku nggak berani lagi menonton sinetron itu. Jadi coba kalian bayangkan jika anak-anak kecil mengkonsumsi tayangan-tayangan sinetron yang penuh dengan tindak kejahatan, adegan-adegan percintaan, adegan-adegan yang penuh intrik, bisa dipastikan akan mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya. Karena harus diingat jika anak-anak sangat suka meniru. Makanya bisa dilihat kan sekarang banyak anak-anak yang menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, banyak anak-anak lelaki yang memperkosa temannya yang berlainan jenis, atau sekedar mencium temannya yang berlainan jenis. Helloooo?? Mereka masih anak-anak tapi sudah mengerti hal-hal seperti itu? Kalau sudah begitu siapa yang harus disalahkan? Pastinya yang harus disalahkan adalah orangtua. Kenapa tidak menjaga dan merawat anaknya dengan baik, terutama menjaga anaknya agar tidak menonton tayangan-tayangan orang dewasa. Jadilah orangtua cerdas, dan ikuti pertumbuhan anak-anak Anda. Jangan biarkan anak-anak sendirian dan menafsirkan segala hal sendirian. Ajak mereka belajar dan bermain, bimbing mereka. Karena usia dini adalah usia yang membutuhkan bimbingan, dan menginjak usia 10-15 tahun adalah usia ketika anak-anak lebih sering berada di luar rumah, sehingga kondisi lingkungan yang sangat mempengaruhi tingkah laku anak. Lingkungan yang baik akan menjadikan anak-anak tumbuh dengan baik dan lingkungan yang buruk akan membuat anak-anak terpengaruh untuk berperilaku buruk. 

Jumat, 21 Juni 2013

6 Pertanyaan Imam Ghozali

REPOST...
Dulu guru agama di sekolah pernah juga menanyakan 6 pertanyaan yang ditanyakan oleh Imam Ghozali di bawah ini kepada kami. Aku suka sekali mendengarnya. Makanya saat aku menemukan kembali pertanyaan-pertanyaan ini, langsung aku ketik ulang dan posting ke blog. Selamat membaca :)

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali mengajukan 6 pertanyaan.
Pertama,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orangtua, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “MATI”. Sebab itu sudah janji Alaah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali imran : 185)
Pertanyaan kedua,”Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, lautan, dan matahari. Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.
Pertanyaan ketiga, “ Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, lautan, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU” (Al A’Raf : 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan ke empat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab : 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang ke lima adalah,” Apa yang paling ringan di dunia ini?”. Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan, kita tinggalkan sholat. Gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.
Lalu, pertanyaan yang ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, “pedang”. Benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah “LIDAH MANUSIA”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Semoga bermanfaat :)

Kamis, 20 Juni 2013

Kegiatan Penanaman dan Pembibitan Mangrove

Kemarin, hari Kamis (20/06/12), aku dan teman-teman relawan Sobat Bumi Aceh melakukan penanaman dan pembibitan tanaman Mangrove di Desa Ruyung, Aceh Besar. Lokasinya itu di daerah Krueng Raya. Kami menempuh perjalanan yang lumayan jauh juga, menghabiskan waktu sekitar 45 menit di perjalanan. Sekitar pukul setengah 11 kami mulai melakukan penanaman mangrove. Kami mengangkat bibit-bibit mangrove ke lokasi penanaman. Lumayan jauh juga kami harus berjalan kaki, dengan panas matahari yang menyengat. Proses penanaman berlangsung seru. Kami menanam di tanah-tanah berlumpur. Pakaian-pakaian yang kotor tak kami pedulikan lagi, bahkan sinar matahari menjadi teman kami hari itu. Rasanya menyenangkan sekali bisa melakukan hal positif untuk bumi. Dan di kemudian hari tanaman-tanaman itu juga bisa membantu perekonomian para nelayan di wilayah tersebut. Pukul dua belas siang proses pembibitan selesai dilakukan, kamipun kembali dan beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan lagi kegiatan selanjutnya. Aku segera mencari air dan meneguknya. Rasanya air yang kuminum tak pernah cukup, ya mungkin saking lelahnya jadi dehidrasi J
Kemudian kami membersihkan kotoran-kotoran lumpur yang menempel di tangan, kaki, dan pakaian. Setelah itu dilanjutkan dengan makan siang yang dimasak oleh warga di desa itu. Enak sekali rasa masakannya. Ada kuah plik ue, ayam goreng, ikan asin goreng, mie goreng, dan kerupuk.
Wah saking laparnya rasanya seperti tidak makan setahun hahaaaaa :D Yah mungkin karena ini pertama kalinya aku menanam di tanah yang berlumpur. Aku jadi ingat dulu waktu kecil sering ikut nenek ke sawah, dan melihat orang-orang bertani. Mereka menanam padi di tanah-tanah berlumpur. Aku suka sekali terjun ke tanah itu dan bermain kotor-kotoran. Yah, momen kemarin kembali mengingatkan aku akan suasana dulu saat menemani nenek ke sawah. Rasanya seperti anak kecil yang baru melihat lumpur dan tertawa kegirangan. Satu kata yang bisa menggambarkan suasana kemarin adalah “seru”.

Pukul dua siang, kami melanjutkan kegiatan selanjutnya yaitu pembibitan tanaman mangrove. Di situ sudah tersedia polibex-polibex yang sudah diisi tanah. Juga ada bibit-bibit mangrove. Kami mengambil bibit-bibit itu dan memasukkannya ke dalam polibex. Ada 20000 bibit yang kami masukkan. Kami juga dibantu oleh para warga di desa tersebut. Mereka juga antusias dengan kegiatan ini, apalagi anak-anak kecilnya. Mereka begitu bersemangat membantu. Rasanya menyenangkan sekali memasukkan bibit-bibit itu ke dalam polibex. Dan beberapa bulan ke depan, kami akan datang ke desa itu lagi untuk melakukan penanaman mangrove lagi dari bibit-bibit yang telah kami masukkan ke dalam polibex tersebut.  Pukul setengah empat sore kegiatan selesai dilakukan. Alhamdulillah kami telah berhasil menanam 1000 tanaman mangrove dan melakukan 20000 pembibitan mangrove K
Acara kemarin benar-benar menyenangkan, karena di sana aku mendapat banyak teman dan pengalaman baru yang berwawasan lingkungan dengan melakukan hal positif untuk alam. Terimakasih Sobat Bumi Aceh telah memberikanku kesempatan bergabung dalam kegiatan ini :)






Caption: Melakukan pembibitan mangrove ke dalam polibex


        Caption: Melakukan Penanaman mangrove



        Caption: Foto bersama para relawan Sobat Bumi Aceh 




Caption: Tumpukan bibit dan tanaman mangrove yang akan ditanam